- Sunday, November 30, 2003
The Beginning of an Ending: Cerita Mereka edisi X
"Hey stranger..." sapaku pelan sambil menyentuh bahunya. Dia menoleh lalu terkejut melihatku. Dia berusaha tersenyum dan berdiri untuk mengajakku duduk disampingnya.
"Hey you.hm, sini sini..duduk sini dear..."katanya sedikit kagok. Memang bukan pertama kalinya aku mendengar dia memanggilku "dear", namun kali ini tampaknya sedikit lain dari biasanya. Cowo ganteng ini keliatan tambah keren malam ini dengan pakaian kemeja berwarna biru tua, lengkap dengan dasi dan kacamata beningnya. Membuatnya keliatan lebih dewasa dan berwibawa, meskipun wajahnya masih tampak letih. Lewat sorotan matanya, aku tau, something is in his mind, sesuatu yg sepertinya amat sangat mengganggunya.
"Hmm...ada apa? Ryan tadi ngasih tau aku untuk kesini..."Tanyaku heran. "Josh dimana?" balasku lagi sambil melihat ke sekeliling lobby.
"Hmm dia nanti bakalan kesini koq, tapi aku minta supaya aku ngomong ke kamu duluan, dan dia ternyata ngijinin..."Rio menjawab dengan tenang dengan masih menatapku tak berkedip. Agak grogi juga duduk berdekatan dengan dia seperti ini, tapi untungnya memang lobby ini agak sepi.
"Kenapa 'yo?"Jujurnya aku masih agak kesal ngeliat tingkah laku Josh tadi. Males ah ketemu ama dia lagi, ngapain sih rese banget... pikirku kesal.
"Cel, listen.. Aku pingin kasi tau kamu sesuatu...tapi kamu tenang dulu yah?"
Duh! Kalo udah ngomong kayak gitu duluan, gimana bisa tenang betz?? Pikirku gregetan. Ini cowo lama2 koq misterius juga gini sih... pikirku sambil mengangguk menatapnya.
"Okay...good... Hmmm..tadi kamu denger kan lagunya?....dia lalu terdiam menunggu jawabanku.
"Iya..." Aku mengangguk sekali lagi.
"Okay...good...Hmmm...tau kan kalo lagu itu buat siapa?"sekali lagi dia terdiam menunggu jawabanku.
Ini apaan sih nanyanya koq seragam gini? Hihihi... agak geli juga aku melihatnya. Tapi karena tampangnya masih cukup serius, jadi aku hanya menjawab singkat.
"Hmm....mungkin."
"Lho kok mungkin sih"tanyanya kaget. Pandangannya lucu sekali, sampai2 aku tersenyum geli. Ini kok jadi lucu gini sih. Duh kalo sama Rio kayaknya aku ga bisa ga tersenyum2 geli, melihat tingkah lakunya.
Aku terdiam sebentar sambil terpikir bahwa emang dari sejak dulu, Rio lah satu2nya cowo yg aku gak bisa kesel atau marah lama2. Makanya dari dulu kayaknya kami berdua rukun2 saja, ga ada intrik2 yg sampai bikin dua2nya kesal beneran.
"oi.."sapanya sambil melirik kearahku. Pandangannya itu mengingatkanku dulu sewaktu kami masih amat dekat, jaman2 dibangku kuliahan dulu.
"Iyaaa... yah mungkin aku tau.. tapi kalo salah kan malu, jadi bilang mungkin aja dulu , yey.." Godaku sambil tersenyum menahan geli. "emang buat siapa?"godaku lagi sambil masih tetap menahan rasa geli itu.
Ada satu rasa aneh tiap kali aku bersama Rio. Dan memang rasa ini sudah ada sejak duluuuu sekali. Yang aku heran, kenapa sampai sekarang masih aja ada rasa itu? Setelah bertaon-taon? Setelah udah ada si Josh?, secara gak sadar aku menarik napas panjang. Rio melihatku dengan pandangan "hm?"
"Hm..koq sekarang tambah pinter ya? Dia membalasku dengan tatapan menggoda. Lucu sekali ekspresi mukanya saat itu. Dan entah kenapa, saat itu aku sepertinya bisa melupakan kejadian yg amat sangat menyesakkan itu tadi. Peduli amat lah sama si Josh. Kalau memang ini caranya untuk membalasku, yah, mungkin ini sudah karma kali, pikirku sambil tersenyum melihat Rio.
"Oke oke deh...sekarang seriusan dulu ya? Aku mau nanya sama kamu sesuatu..."
Oh no. Mau nanya apaan lagi?
"cel...do you feel the same?"
Udah? Gitu aja nanyanya? Aku menunggunya untuk berbicara lagi, namun tampaknya hanya itu yg keluar dari mulutnya. Rio tetap memandangku tak berkedip. Dan saat itu benar2 rasanya lutut ini lemas lunglai. Untungnya kami dalam posisi duduk di sofa lobby yg nyaman itu, coba gimana kalo lagi berdiri?
Dia menyentuh lututku sebentar, seperti hendak bertanya, "kok gak dijawab pertanyaanku?"
"Hm...sorry aku tanya blak-blakan aja langsung ya soalnya hm aku gak pingin kamu disakiti. Either sama aku, ataupun sama orang lain..tapi.kalau kehadiranku ini menambah beban dihatimu, sepertinya aku harus menyingkir. Karena kamudeserve the happiness, cel. You do. And I hate to be the one who can ruin it for you. "
Oh gawd. Kata2nya itu begitu dewasa, begitu unselfish. Namun aku masih kagok untuk berkata2 lagi. Makanya aku diam saja sambil sedikit menunduk. Takut melihat tatapan mata indahnya itu.
"Hmm....tadi aku udah bilang sama Josh, aku gak mau jadi orang ketiga terus diantara kalian. Dan ternyata Josh juga tidak seperti yg kubayangkan. He's a good guy, and one hell of a lucky one, too.. "katanya sambil tersenyum menatapku.
Disentuhnya daguku untuk mendongak melihatnya. Kedua mata kami bertemu. Sorotan matanya seperti hendak menerobos masuk jauh ke lubuk hatiku terdalam. Dan saat itu, entah kenapa, ada rasa kehangatan dan ketenangan dihatiku.
"Iyo....aku....."
"ya..? " Dia menungguku untuk berkata2 lagi. Namun rasanya sulit sekali untuk menatap matanya, makanya akhirnya aku hanya menunduk sambil sesekali menatap lurus kedepan.
"aku gak bisa mikir.. mumet banget sekarang ini...."Jawabku akhirnya, sambil menghindari tatapan matanya yg begitu . Ah entahlah.
"Hm ya udah ga papa..... mo nemuin si Josh sekarang?"tanya dengan nada yg amat sangat sabar. Aku heran, kenapa dia jadi begini sekarang? Apakah bener dia rela ngelepasin begitu aja? No questions asked?
Kemudian dia tersenyum lalu berdiri dan berjalan menjauhiku. Disitu aku duduk terpaku melihat bayangannya yg lalu tak lama kemudian terlihatlah satu sosok Joshua yg berjalan dari arah elevator. Dia tersenyum kearahku dan berjalan mendekati. Melihatnya tiba2 ada disana, dengan agak kikuk aku cepat2 meluruskan posisi dudukku sambil memainkan tali tasku. Ingin rasanya kaki ini segera berlari menjauhinya, lari keluar supaya gak perlu lagi melihat tampangnya itu.
"Halo sayang.." Josh menyapaku lembut. Beda sekali nada bicaranya dengan yg tadi diruangan pesta itu. "Masih ngambek ya.....hm.... soal yg tadi itu?"tanyanya polos sambil menatapku dengan pandangan sayu.
Aku terdiam sambil menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajahku kearah lain. Dia lalu lalu mengikuti arah wajahku dan langsung duduk berjongkok tepat didepanku. Dilihatnya gelang kaki yg ada di pergelangan kakiku itu. Gelang kaki pemberiannya. Cara memandangnya itu membuatku semakin canggung dan risih.
"Ada apa.... cepetan aku mau pulang...."Jawabku pendek. Lalu selama 5 menit kedepan, dihabiskannya untuk menjelaskan padaku apa yg terjadi tadi, dan kenapa dia bisa sampai membuatku kesal begitu. Ha? Tidak sengaja katanya? Apaan sih. Akupun masih bertanya2 dalam hati sambil sedikit ngedumel.
Katanya demikian, "aku tau.. aku salah dengan cara itu tadi, malah buat kamu jeles dan marah. Tapi cewe itu bukan siapa2 koq. Dia namanya Bella, aku juga baru kenal Hm, emang kebetulan tadi kamu liat aku sama dia, .dan.well, intinya aku mau minta maaf ama kamu. I guess I was still angry because of what happened yesterday. Tapi percaya deh, aku gak ada maksud untuk nyakitin kamu. This is not what supposed to happen tonight. Dan aku nyesel udah nyakitin kamu.. "
Sementara aku masih terdiam, tangan kirinya memegang gelang kaki itu, lalu diputarnya kearahnya, dan dilepasnya dari pergelangan kakiku. Aku agak terkejut sedikit melihat kelakuannya itu. Koq dicopot sih? Tapi dia pun terdiam sambil sesekali menatap tajam kemataku.
"Gracie, kamu masih inget apa yg aku bilang waktu malam ulang taunmu itu?"
Aku hanya mengangguk pelan. Iya memang dulu dia pernah mengatakan ingin bersama2ku selamanya. Ia berharap ingin bisa disampingku terus, dan mengikutiku sampai kapanpun juga, dan gelang kaki ini lah sebagai lambang itu.
"Hm.....kamu tau kan aku sayanggg banget sama kamu? Hmm, yah ternyata malam ini aku sadar, kalo rasa sayang ini saja gak cukup buat kamu, dan ga bisa ngelebihin apa yg Rio bisa kasih ke kamu selama ini...."Dia berhenti sejenak, sebelum meneruskan lagi,"Kayaknya ada sesuatu yg aku sendiri ga tau kenapa, tapi tadi dari cara kamu ngobrol2 sama Rio, keliatan banget kalau kamu tuh betul2 hepi banget sama dia. Tadi keliatan koq dari atas, aku liat kamu ngobrol2 ama dia, kayaknya bener2 bahagia banget. Jarang kamu kayak gitu sama aku."
Aku kaget sekali mendengar semua penjelasannya ini. Josh, cowo yg tadinya begitu keliatan tidak stabil, sebentar berubah jealous, sebentar lagi berubah lagi, dan sekarang sepertinya balik ke sosok Joshua yg aku kenal pertama kali. Begitu pengertian, begitu sabar
"Josh.. "akhirnya kuputuskan untuk memotong perkataannya, namun dia memberi isyarat padaku untuk mendengarkannya saja sampai tuntas.
"Ssh... Denger dulu aja ya. Hm, emang kadang kita emang gak bisa ngerti, kenapa cinta yg sepertinya udah diberikan begitu dalam, ternyata belum cukup juga untuk memberi kebahagiaan bagi orang yg kita sayangi tapi kamu, jangan pernah nyangkain aku rela kehilanganmu ya karena terus terang, Im terrified.takut banget keilangan kamu.. "
Dia terdiam sambil menatap dalam2 ke dua mataku. Digengamnya gelang itu, lalu ditaruhnya dimeja yg ada didepan kami itu. Sambil berdiri, ia berpindah posisi kesebelahku. Wajahnya yg tadi keliatan agak letih, sekarang nampak lebih kalem dan tenang. Dan entah kenapa, dari sorotan matanya itu, aku tau, semua tadi yg dia ucapkan, bukan suatu hal yg gampang bagi dia utk diucapkan.
"Jujur,....tadi waktu ngeliat kamu sama Rio ngobrol lalu kamu sempat tertawa dan senyum-senyum.. hati ini semakin teriris-iris. Tapi aku dengan jelas ngeliat gimana wajahmu yg lagi suntuk tiba2 bisa ceria kembali. Aku iriamat sangat iri. Dari situ aku bisa liat kalo memang disitulah titik kelemahanku.dihubungan kita. Kamusepertinya gak bisa bebas ketika bersamaku. Jarang sekali bisa kelihatan happy seperti tadi. Beneran deh, tadi itu wajahmu tadi benar2 lights up like no other things matter anymore.....and you look very happy when you're with him...."
Lalu dia terdiam. Menarik napas dalam2. Sementara aku pun terbingung-bingung. Disaat itu ingin sekali kutahan semua perkataannya, memeluknya erat2 sambil meminta maaf sejadi-jadinya. Tapi rasanya lidah ini kaku. Tak sepatah katapun sanggup kuucapkan buatnya, sementara airmata pun langsung deras menetes satu persatu, jatuh ke pipiku.
"Aku sedikit nyesel kenapa aku gak dari dulu mencoba buat kamu bahagia. Aku nyesel tapi aku tadi kepikirnya cuma satu,.... gimana bisa kasih kamu kebahagiaan itu, meskipun nanti kita ga sama2 lagi....." ucapnya pelan. Suaranya sedikit memudar.
Josh menatapku tajam sambil sedikit tersenyum. Wajahnya sekarang terlihat begitu dewasa, amat tenang dan tegar. Melihatnya begitu, aku semakin ingin memeluknya langsung saat itu juga, namun hati ini terasa berat, amat berat.
Masih terngiang2 diotakku semua perkataannya tadi. Apa yg telah dia bilang tentang gimana Rio lebih bisa membuatku tersenyum dan tertawa happy, tanpa ada beban apapun.
Kami berdua terdiam sambil sama2 menatap mata satu sama lain. Dan akhirnya kuputuskan untuk gantian ngomong.
"Josh..aku juga sayang koq sama kamu. Tapi aku tadi bener2 kecewa ngeliat itu semua. Abis kayaknya koq kamu langsung panas2in aku begitu, padahal...."
"sshh.....sudahlah ga perlu diinget2 lagi hal yg bisa tambah bikin kita sakit hati....." potongnya cepat. Dengan jari telunjuknya menyentuh bibirku, Josh memberi isyarat supaya aku berhenti bicara.
"I should say aku salut sama Rio. Meskipun kalian bertahun2 gak ketemu, tapi ternyata dia sanggup merebutmu dari pelukanku..he's one hell of a lucky bastard!" katanya kesal sambil tertawa renyah. Dari situ aku tau, Josh telah benar2 melepaskanku.
Dipandangnya gelang kaki yg ada didepan kami itu, diambilnya, lalu dia mengambil tanganku, dan diberikannya kembali padaku. "Simpanlah....." begitu saja katanya.
Lalu ia mengajakku berdiri, tepat berhadap2an. Dibelainya kepala belakangku dengan tangan kanannya dan dipeluknya erat dengan satu tangan kiri yg masih menggenggamku erat. Sesaat kemudian Josh mencium lembut keningku, sambil mengusap airmata yg masih ada dipipi lalu melepaskan tanganku dari gengamannya.
Dengan tatapan matanya yg sayu, dia pun berjalan menjauhiku. Ada satu luka yg teramat dalam yg terpancar dimatanya, namun pada saat yg sama aku tau dia benar2 iklas melepaskanku untuk selamanya.
Pada saat yg bersamaan pula, sepertinya hatiku pun ingin menjerit pilu
Kututup wajahku dengan kedua tanganku, sambil duduk menunduk menahan semuanya. Dan selama kurang lebih duapuluh menitan aku terdiam terpaku di lobby itu, hanya duduk dengan hati yg kacau balau, menahan rasa kesal dan perih. Rasanya, masih terngiang2 semua perkataan Josh barusan itu, membuat rasa bersalah dihatiku ini jadi semakin mendalam. Terbayang2 sosok Rio yg pergi berjalan sebelum sempat kuucapkan apapun itu yg perlu diucapkan padanya.
Lalu tiba-tiba saja, ada satu tangan menyentuh pundakku......
"non."
Kuangkat kepalaku dengan berat hati, dan terlihatlah sekilas wajah pemuda yg menyapaku itu, dia tersenyum begitu penuh perhatian dengan mata yg berkaca-kaca. Dia menunduk jongkok, mengelus rambutku perlahan sambil terus menatapku dan akhirnya berkata demikian, ....
"aku ragu.....ragu apakah nanti aku bisa menemukan gadis sepertimu lagi. ragu...apakah aku bisa.... mencintai gadis lain seperti aku mencintaimu but no.... I don't wanna take that chance.. I can't afford to lose you.again...."
Kedua mata kami bertemu satu sama lain, dan saat itu aku yakin akan pilihanku. Dan dia, dia sepertinya tau juga, karena memang tidak perlu lagi kata2 yg terucap dibibir kami. Tidak perlu bila dua hati telah terpaut ....
==THE END==
P3S (Pesan-Pesan Pentink Sponsor *whihi*)
Eh? Kelar? Ending apaan nih kayak gini.? Huhuhu. *penulis mencoba menebak isi hati para pembaca terkasih hihihi*
Tenang..sabar.. anak sabar disayang Tuhan.. hihihi. *cengengesan mode ON*
Apakah memang sampai disitu saja ending dari Cerita Mereka ini? Ahtentu tidak hehehe ;)
Siapakah pemuda yg menghampiri ecel terakhir kali itu? Rio kah? Josh kah? Atau orang lain kah?
Apakah Rio bener2 ikutan rela ngelepasin cewe yg disayanginya itu, demi kebahagian ecel sendiri?
Dan apakah (oh apakah.*whihi*) apakah benar bahwa seorang Josh yg begitu mencintai Gracienya, dengan gampang melepaskannya begitu saja?
Anda masih penasaran? *whihihi*
Begini, . saya punya kabar gembira! *cengar cengir* Eitss..jangan dicubitin gitu dulu donk ah ;) Berhubung sewaktu pembuatan edisi ke 10 ini ada sedikit perubahan rencana., maka. *drum rolls* temen2 diundang untuk ikutan dengerin Cerita Mereka ON-AIR di. ? Dimana lagi kalau bukan di cyber-radio kesayangan saya *ehm* HEARTBEATSTATION! Premier pada tanggal 14 February 2004 , nanti waktunya akan diberitahukan lagi.
Thank you banget buat semua masukan dan komen2 dari temen2 yg uda baca ihikz mi lop yu ol *terharu* =) jangan upa didengerin yah CMnya di Heartbeatstation -- your only way to the world cyber radio!
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


