- Saturday, November 22, 2003
The 'Almost' Ending: Cerita Mereka edisi IX
Joshua membanting pintu mobilnya sambil menghempaskan napasnya. Cowo itu masih berada didepan rumah sang gadis yg baru saja dia bentak2 itu. Masih terngiang2 dimatanya kejadian tadi sewaktu pertama ia datang dan melihat sang gadisnya yg sedang duduk2 berduaan dengan Rio. Saat itu memang hatinya benar2 panas melihat tampang cowo itu duduk disebelah pacarnya, meskipun seharusnya reaksinya gak harus seperti tadi, namun tampaknya kesabarannya yg dipendam selama ini ternyata habis batasnya.
Josh menengadah kelangit2 mobil sambil mengingat2 perkataannya sendiri tadi. Putus? Gue minta putus sama doi? Arghhh! Stupid me!! Pikirnya sambil lalu menjeduk"an kepalanya. Masuk lagi ga yah? Hmmm". Josh melihat kearah jam dimobilnya, sudah hampir jam 12 malam.
Kring".kring". handphonenya bergetar tiba2. Dilihatnya sekilas nama sang penelpon
Steve"s HP
"Hello?"
"Hey Josh, u coming tomorrow??" tanya sang penelpon dari ujung sana.
"Tomorrow?" tanya Josh sambil masih menerawang, pandangannya kosong. Dilihatnya lampu rumah Grachella sudah mulai meredup. Gadis itu tidak menelponnya. Hm..
"Lha...gimana sih....besok konser band anak2 gue"? Trus katanya loe mo ada surprise buat si Ella?"
Oh my. Mampus! Yaiks, beneran"besok itu memang ada acara gathering anak2 alumni 3 universitas di LA" Josh menepuk jidatnya saking kagetnya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 12.02 malam.
"Oi? Wei? Kok diem sih..."
Oh hell umpat Josh dalam hati. "Eh I gotta go...ntar gue telpon balik deh..."Josh cepat2 meluruskan duduknya dan dicabutnya kunci mobilnya.
"Hah? Ngapain siy? Loe dimana nih?" tanya Steve kebingungan.
"Gotta go man.. I have an big apology to do. Ntar gue telpon lagi! Bye." Klik. Ditutupnya handphonenya secepat mungkin, lalu keluar dari mobilnya. Dilihatnya keatas, kearah kamar sang gadis. Good, kamarnya masih nyala, pikirnya sambil memencet2 nomer telpon yg sudah amat sangat dihafalnya itu.
Kring kring... Kring kring kring kring
Ditunggunya semenit, dua menit, tiga menit". Tidak ada yg mengangkat telpon itu. Apakah dia sengaja gak mau angkat telpon? Pikir Josh resah. Ditatapnya terus kearah jendela kamar Grachella yg memang masih terang benderang, menandakan pemiliknya masih belum tidur.
Sementara itu di kamar sang gadis".
Aku melirik kearah handphone yg masih bergetar" terus menerus. Angkat, jangan, angkat, jangan. Hmm nanti kalo diangkat, kalo dia masih marah, gimana?
"Hallo?"
"Hm...udah bobo blum? Boleh turun sebentar?" suara Josh terdengar begitu lirih, memelas.
"Hm...buat apa...?" Lho kok buat apa sih.... pikirku menyesal. Jawabanku tadi sepertinya memang terdengar agak sengit dan asal2an. Ah, biarin deh, biar feeling guilty dia ah... Kuintip dia dari balik korden kamarku.
"Hmm turun yah? please?" jawab Josh datar. Kelihatan dari atas, dari arah kamarku, pemuda itu terlihat sedang melongok keatas, kearah kamarku.
Josh berdiri disamping mobilnya sambil terus menatap kearahku. Sewaktu dilihatnya wajahku dari balik tirai kamar, dilambai2kan tangannya kearahku, mengajakku turun menemuinya.
"Ga lama ya..." Jawabku akhirnya sambil menutup kembali tirai korden itu sambil menebak2 apa yg akan dikatakannya nanti. Agak kesel juga sih dengan perlakuannya tadi itu. Seenaknya aja dia pake acara ngambek sambil bentak" segala. Emangnya aku apa? Dia sendiri toh yg bilang mau "break" dulu, mau kasih aku time utk berpikir... trus koq kenapa malah seenak jidat kayak gini sih....umpatku dalam hati. Kesel bener ah.....
"Aku tunggu dibawah..." Jawabnya singkat lalu kami sama2 menutup telpon. Suara Josh terdengar begitu datar, begitu dingin. Dengan masih agak kesal, aku pun keluar cepat2 aku ganti pakaian dengan T-shirt dan jeans, lalu bersisiran sekenanya dan mengaca sebentar.
Sesampainya aku diluar, Josh langsung keluar dari mobilnya, menghampiriku. Dia langsung mengajakku masuk ke mobilnya. Udara malam hari itu amat dingin, hingga membuatku sedikit gemetaran.
"Hm dingin...? Wanna wear my jacket?" kata Josh sambil menatapku. Pandangannya masih agak dingin, tapi terlihat ada kilatan kepedihan dimatanya. Aku menggelengkan kepalaku, namun memang udara diluar benar2 dingin. Menggigil rasanya karena menahan dingin. Cowo itu pun lalu spontan mengambil jaketnya di jok belakang, lalu memakaikannya kepadaku.
"Pake gih...udah menggigil gitu loh..." Katanya lagi sambil menyalakan mesin mobil. "Kita muter2 bentar ya...biar heaternya bisa sambil dinyalain, biar kamu ga terlalu kedinginan..."
Aku terdiam saja. Terserah lah dia mau gimana. Aku udah capek. Capek menahan beban perasaan seperti ini. Capek berada ditengah2, diposisi kejepit seperti ini.
Namun melihatnya masih begitu perhatian, tak sampai hati rasanya untuk menolak perlakuannya itu. Kutatap laki2 disampingku ini sambil mengingat kejadian tadi, yg seolah2 seperti ada satu sosok kepribadian lain, Josh yg pemarah, yg dingin, yg suka bentak2, versus Josh yg amat perhatian dan sayang banget sama aku.
Ah, gimana sih ini, kok jadi kayak ada double personality begini...?
Lalu akhirnya kami pun berhenti disatu taman umum, yg emang dulu kalau lagi suntuk, aku sering ajak Brenda jalan2 ke taman ini. Hanya untuk bersantai dan melihat anjing2 lain teman2nya Brenda :)
Josh memarkir mobilnya lalu kami berdua hanya duduk tanpa berbicara satu patah katapun untuk selang beberapa menit. Akhirnya setelah sudah 10 menit berlalu tanpa satu katapun keluar dari mulutnya, aku pun mulai ga sabar. Apa sih maunya? Udah malem2 gini, bukannya cepetan...malah berlama2 diem2an gini... Umpatku kesal. Maunya apa sih... huh.......
"Kamu marah?" tanya Josh sambil menoleh kearahku.
Nah akhirnya dia ngomong juga.. hmm koq jadi malah dia yang nanya gitu sih... Ih nyebelinnnnnn...... Otakku mulai menerawang sambil menatapnya tajam. Sepertinya sekarang ini aku tidak lagi mengenal Joshua yg dulu. Yang sabar, yg penuh pengertian, yang memahamiku.
"Maksudmu?"
"Hmmm..."
"Apa sih Josh....just say it....." Jawabku cepat sambil berusaha menahan rasa kesal ini. Josh tau persis sifatku, dan dari dulu kami selalu bisa cepat menyelesaikan masalah dengan cara terus terang. Kalo memang ada yg kesal atau marah, bukannya diem2an seperti ini.... tapi sekarang....? Kok dia malah sepertinya mau mancing2 amarahku gini sih??? ihk gemessss....
"Hmmm.....jadi gitu ya...."
"Jadi gitu apa....?"
"Iya...... I have made it easier for you...."
"What?" akhirnya gak tahan juga kubendung rasa kesalku itu. Ini cowo apa maunya sihhhhh....
Dia terdiam setelah mendengar nada bicaraku yg terdengar amat galak itu.
"Maksudmu apa?" tanyaku sekali lagi. "bukankah kamu sendiri yg bilang putus? Didn"t you say, oh you wanna give us a break? To see where this love leads us?.....right?...." jawabku geram.
Dia terdiam lagi. Hanya menatapku tajam, sebelum akhirnya dia menoleh kearah kirinya, menatap kosong keluar sana.
"Hmm...ternyata semudah itu ya....."
"????....." Aku menarik napas panjang sambil akhirnya kusentuh lembut bahunya. "what happen to us...? Aku ga ngerti.... beneran Josh....tell me what u want me to do now...." pintaku sambil memelas melihatnya.
Aku tau persis sifatnya kalo udah seperti ini. Semakin keras ditanggapi, semakin mengeras juga hatinya, meskipun sebenarnya bukan itu sinyal yg ingin dia sampaikan padaku. Cowo itu masih duduk terdiam, memandang lurus ke depan.
"Josh...listen....I"m so sorry I hurt you so much these few weeks... tapi aku pun gak bilang mau putus sama kamu, aku juga...."
"Ssst...." Dia menutup mulutku dengan jarinya. "OK now listen to me.....apakah kamu sekarang udah ada keputusan memilihku?"
Josh menatapku dalam-dalam. Agak kaget juga sih dengan perubahan sikap yg agak drastis ini. Pandangannya tidak lagi dingin, dan mulai agak bersahabat kembali.
"Jawab aja sejujurnya....." Pintanya lagi sambil kemudian mengusap lembut rambutku. Ditatapnya kedua mataku. Tidak ada senyuman diwajahnya. Raut wajahnya terlihat teramat capek dan sedih.
Oh gawd....what did I do to him....kenapa aku bisa sejahat dan setega ini? Tiba2 dadaku berasa sesak.
Sakit... sakit sekali melihat orang yg amat menyayangiku ini terlihat begitu sedih dan terluka, seolah2 hatinya yg hanya buatku itu, sedang kulepas dari satu ketinggian yg amat jauh, membiarkannya terombang-ambing sebelum akhirnya jatuh ke tanah dan remuk.
"Gracie...? bisa jawab aku?" tanyanya sekali lagi sambil terus menatapku dalam2.
Jujurnya saat itu memang ingin sekali aku memeluknya tanpa harus menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yg memang seharusnya aku sudah tahu jawabannya, or at least, ga ngegantung seperti ini....
Namun sepertinya.... hatiku masih belum tega dan belum berani untuk mengambil keputusan itu. Beranikah aku menjadi yg terjahat diantara kami bertiga ini? Haruskah aku yg memilih? Dan apakah aku sanggup hidup tanpa mereka berdua?
"Aku gak ngerti.....tadi kamu udah bilang putus....udah bilang cape sama aku....lalu sekarang kamu nanyain begini lagi..... Even though aku gak pernah ngomongin ttg hal putus sama kamu...." jawabku akhirnya sambil menatapnya. Aku tau jawaban itu terdengar begitu ngambang. Ah gila, what did I say? Pikirku dalam hati. Sounds so worthless....
"Hmm.... besok kamu tetep pergi kan? Tadi si Steve udah nanyain...." katanya sembari berusaha tak acuh dengan pernyataanku tadi itu. Besok? Oh iya besok memang ada satu acara musik yg disiapkan oleh anak2 alumni kampusnya Steve dan Josh di Malibu. Konser ini kolaborasi dengan pihak anak2 Permias LA yg sedang giat-giatnya mencari dana untuk membantu anak2 yatim piatu di Indonesia. Aku ingat dulu Josh pernah bilang, di acara ini dia pingin kasih sesuatu untukku, tapi selama ini dia gak pernah menyinggung2 lagi hingga akupun lupa.
"If you still want me to go, I"ll go..." Begitu jawabku akhirnya sebelum kusudahi pertemuan kami malam itu. Josh kemudian mengantarku balik kerumah.
"Aku tunggu kamu besok disana yah...." Katanya sambil menatapku datar. Koq? Hm berarti dia gak jemput aku... Pikirku dalam hati. Ya sudahlah biar..... Terserah apa maunya dulu..... capek aku.....
"Fine." Jawabku singkat lalu menutup kembali pintu mobilnya. Akupun berjalan menjauhi mobilnya dan belum sampai didalam rumah, handphoneku bergetar.
Iyo HP. Oh no. Hm, angkat ga ya? Udah gak usah angkat lah. Eh tapi kalo penting gimana? Apanya yg penting sih udah jem segini? Eh tapi justru jem segini kan malah mencurigakan,.... ngapain jem segini nelpon2? Pikiranku semakin berkontradiksi. Bingung ah.
Handphone itu masih terus bergetar. Sementara itu mobil Josh semakin berjalan menjauhi rumahku....
Lalu tak lama kemudian, ada satu bunyi beep pertanda ada satu text message yg masuk.
"cel, udah bobo yah? Hm, ga papa koq, I just wanna know how you're doing. Aku kebangun nih trus keinget kamu.... Gimme a call when u get this msg, k?
Duh. Iyo...iyo..... koq kamu bisa tau sih kalo emang malam ini aku lagi kacau balau begini? Apakah benar kalau memang dua hati telah menyatu, maka rasa telepati diantara mereka akan semakin jelas terasa? Apakah memang dia jodohku? Dan kalau memang iya, what do I have to do now? What about Josh??? AaaRrrGgghHhH.....
Malam itu aku pun terlelap dengan dua bantal diatas kepalaku. Puyeng banget rasanya.
- - - - - -
20 jam setelah itu"..
Di Malibu, satu hall pertemuan yg dibooked oleh pihak panitia, telah ramai dipenuhi anak2 muda alumni yg umumnya memang sekolah di UCLA, USC atau UC Berkeley. Aku pun menyadari banyak beberapa wajah2 yg cukup familiar karena memang dulu aku pernah dikenalin oleh Rio. Dulu, dijaman2 masih duduk di bangku kuliah.
Setelah melihat sekelilingku, menyapa beberapa teman2 yg kenal dengan Josh juga, aku pun mencari2 sosok lelaki yg berkata akan menungguku disini. Dimana dia?
"Lookin" for me, beautiful?"
Akupun menoleh kebelakang. Laki2 itu tersenyum ramah sambil mengerlingkan kedua mata bagusnya itu.
"Hey..!! How are you..." sapaku kaget lalu diapun mengajakku berpelukan.
"Sendirian aja nih 'La?" tanyanya sambil mengajakku menepi ke pinggir. Ruangan hall itu memang cukup sesak dengan ratusan orang yg telah datang. Dia pun berjalan mengambil 2 gelas fruit punch untuk kami.
"ngg...iya... Hm, apa kabar kamu 'Yan...? Duh, lama banget yah ga ketemu?" tanyaku sambil menerima gelas itu dari tangannya. Cowo ini terlihat lebih cakep, lebih dewasa.... ramah....
"hehe bae bae "'La.... Ella gimana, bae juga? Udah merit blon 'La.... hehehe" tanyanya lagi sambil tertawa menggoda. Aduh, ketawanya itu masi tetep sama.
Iya memang dulu kami sempat pernah akrab, namun aku dan Ryan hanya sebatas teman kuliah biasa. Mungkin karena dulu aku dan Rio cukup dekat, makanya tak pernah yg pernah berani memberi indikasi apapun kepadaku, terlebih2 darinya yg memang kenal cukup baik dengan Rio.
"Aduh...ya belon lah 'yan..... Hehee kamu duluan lah.... Gimana Dewi? Masih jalan kan kalian?"
"Dewi? Hahaha.. udah cerita lama banget 'La.... kami udah putus lumayan lama kok." Jawabnya singkat dengan isyarat sepertinya topik "dewi" ini tidak cocok untuk dibicarakan sekarang.
Sementara itu MC mulai bercuap2 dan membuka acara malam itu dengan memperkenalkan satu band yg memang memegang penuh seluruh isi acara malam itu. Aku melihat Steve sibuk berjalan2 disekitar panggung, namun sosok Joshua belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Duduk disana yuk...." Ajaknya sambil berjalan menuju satu meja yg berasa disisi samping panggung.
"La...si Rio gak dateng malam ini?" tanyanya sambil sedikit berteriak pelan ke arah kupingku. Musik memang mulai terdengar kencang pertanda acara pertama pembukaan telah dimulai. Band itupun memulai dengan lagu yg cukup cepat beat'nya, dan beberapa anak2 muda pun mulai turun ke lantai dansa.
"Oh"hmm ga tau 'Yan.... mungkin dateng nanti maleman....I don"t know." Jawabku sambil lalu mencari2 kesekelilingku. Josh dimana? Koq dia gak keliatan sih?
"Nyari siapa La....?" Tanya cowo itu sambil kemudian mengikuti arah mataku. Aku pun berasa malu dan lalu tersenyum saja. "Nyari Josh ya?" katanya lagi sambil meneguk gelasnya. Aku kaget. Koq bisa tau sih? Hmm....jangan2 dia kenal Josh juga.....
"hehe..jangan bingung gitu dong..... hm itu Josh tadi aku liat pergi keluar sebelum kamu datang. Mungkin nanti bakalan kesini lagi?" jawabnya sambil berusaha membuatku kembali tersenyum.
Kemana dia? Koq malah pergi??? Sebel juga diginiin...maksudnya apa sih???
"Oh ya sudahlah biarin.... Hm aku ke belakang dulu yah 'yan..... Titip gelas ya" akhirnya kutinggalkan meja itu dan berjalan kearah restroom.
Ketika kuberjalan ke restroom, kulihat satu sosok tubuh yg sedang berjalan masuk ke ruangan. Disampingnya ada satu cewe manis yg belum pernah kulihat sebelumnya. Mereka tampaknya memang datang bersama, tapi....siapakah cewe itu? Koq....?
Akhirnya cepat2 kuberjalan masuk ke dalam restroom sambil berusaha tidak berpikir macam2. Dan setelah selesai, ketika kuberjalan keluar, cewe manis itu berpapasan denganku. Tampangnya agak dingin, dan tidak menoleh kearahku, mungkin karena memang kami tidak kenal. Eh.....
"Gracie....? Hm kamu kemana aja aku cariin...."
Cariin? Lho, itu tadi dia dateng sama tuh cewe.....? What the....?!?
"Nyariin siapa.....? Itu si dia lagi baru aja masuk, tungguin aja...ntar juga keluar sendiri..." Jawabku asal. Ini si Josh ngapain sih? Mau nyakitin gue gitu? Otakku pun mulai berpikir kesana kemari. Kesel banget diginiin. Katanya kemaren mau minta aku datang keacara ini, ehh setelah dateng, koq malah kejadian gini sih? Apa dia sengaja??
"Lhoh....yah nyariin kamu lah sayang...." Jawabnya ramah sambil ketawa. Tangannya meraih tanganku dan mengajakku berjalan kesatu tempat yg memang sepertinya sudah disediakan khusus untuknya.
"Kok diem aja sih? Kamu tadi kemana....sorry yah aku telat dateng....ada urusan sedikit tadi"
Urusan? Urusan apaan? Ngurusin tuh cewe??? Siapa sih tu cewe? Pikirku dalam hati sambil sedikit furious. Pengen nanya tapi gengsi, ga nanya tapi kesel bener.... Ah gimana sih ini....
"Hello? Hm earth to Gracie?" godanya sambil menyentuh pelan tanganku. Ditatapnya tajam2 kedua mataku. Sorotnya itu, aku kenal banget kalau memang dia berbohong. Tapi sepertinya saat itu, dari sorotan matanya aku merasa dia berkata yg sejujurnya.
"I saw you with her.....tadi waktu masuk. Who is she? Why do you have to lie?" tanyaku bertubi2 setelah membungkam sekitar 5 menitan. Hati ini panas banget rasanya melihat dia disitu masih tenang2 merayu dan membujukku.
"What? Who? Her who?" tanyanya agak kaget dan langsung melepas genggamannya.
"Cewe itu..... yg tadi kamu tungguin didepan restroom.." Tanyaku gemes. Udah begini koq masih bohong sih? Apa dia pikir aku ga punya mata??? Arrrgggh!
"Hey....nyantai aja donk..... emang aku gak boleh punya temen cewe?"
What the?!? Koq malah dia jadi yg lebih galak???
Aku pun terdiam dan membalikkan badanku kelain arah. Males banget liat tampangnya sekarang. Ah, mustinya aku pergi saja.... buat apa makan ati begini disini....ga ada gunanya.
"Kenapa? Hmm marah kan? Ga suka kan kalo aku deket sama cewe lain? Hmm aku cuma pengen tau reaksi kamu.... Gimana kalo memang bener2 aku sama cewe lain, apakah kamu bisa lepasin aku gitu aja? Dan buktinya sekarang"kamu udah marah2 gini....hehehe....." dan diapun tertawa terbahak2 seolah2 mengejekku. Gila! Emang dia pikir aku siapa??
"Gak lucu Josh. Aku mo pulang." Dan berdirilah aku langsung dan berjalan cepat menjauhi mejanya. Dia tidak mengejarku. Aneh. Siapakah Josh ini? Apakah memang sekarang dia begitu membenciku? Hm.
Seketika itu juga aku ingin sekali menangis sejadi2nya. Seandainya ia tahu.....seandainya Josh tau kalau malam itu aku sudah berpikir akan menentukan akhir dari cinta segitiga ini. Tapi apa sekarang jadinya....? Aku harus pulang, ...aku ga mau berlama2 ditempat bising ini.... sambil berjalan cepat, aku pun menerobos kumpulan orang2 yg masih ada diruangan besar itu.
Tak lama kemudian.....
"Hello everyone.... I'd like to dedicate this one song for this one beautiful girl I"ve loved all my life. She is the reason why I'm here now, and I'm hoping she'll give me the chance to love her for the rest of my life...."
Suara merdu itu berkesan begitu familiar. Oh my gawd! Aku pun menoleh seketika dan melihat kearah panggung. Cowo itu menatapku dengan pandangannya yg begitu amat kukenal. Oh my gawd Rio...!
Sementara musikmu perlahan mulai masuk, dan seluruh pandangan orang2 disekitarku mulai bergerak-gerak mencari sumber sorotan mata sang penyanyi dipanggung itu.
Rio...kok bisa ada dipanggung? Oh my! Aku menutup mulutku yg sedikit ternganga karena kaget.
Sementara ruangan diredupkan, intro musik masih mengalun perlahan. Aku berdiri terpaku melihat kearahnya, tanpa mempedulikan sekitarku yg berbisik2 sambil tersenyum2 menatapku.
"You know who you are....and this one is for you. I love you, girl..... always, no matter what happens..." katanya sambil kemudian berjalan menuju tengah panggung dan lalu duduk dibangku piano putih itu.
Remember when, we never needed each other
The best of friends like sister and brother
We understood, we'd never be, alone
Those days are gone, now I want you so much
The night is long and I need your touch
Don't know what to say
I never meant to feel this way
Don't want to be
Alone tonight
What can I do, to make you mine?
Falling so hard so fast this time
What did I say, what did you do?
How did I fall in love with you?
I hear your voice
And I start to tremble
Brings back the child that, I resemble
I cannot pretend, that we can still be friends
Don't want to be alone tonight
Oh I want to say this right
And it has to be tonight
I just need you to know, oh yeah
I don't want to live this life
I don't want to say goodbye
With you I wanna spend
The rest of my life
Dan setelah ia kelar bernyanyi. Ruanganpun sepi sejenak, sekitar 2 detik lalu suara-suara penontonpun bergemuruh. Tepukan tangan dan seruan dari segala penjuru! Mereka semua bertepuk tangan untuk Rio. Suaranya itu....lagunya itu..... Oh my gawd...! Aku tak mampu melihat semua ini. Ini seperti mimpi saja! No no... this couldn"t be! Aku menutup wajahku malu, karena ada beberapa orang2 diruangan ini yang sepertinya mulai curiga melihatku. Mereka mulai menatapku sambil tersenyum2 menggoda.
Rio pun berjalan turun dari atas panggung dan bayangannya menghilang. Aku sendiri masih berdiri tidak jauh dari pintu sambil mencoba menahan malu. Sekilas kulihat dari kejauhan, Josh dan cewe itu duduk disatu meja. Tatapan mata Josh seolah2 tidak mengenalku. Tajam dan pandangan kosong, lalu kemudian acuh kembali dan berbincang2 kembali dengan gadis dihadapannya itu.
Dan memang diposisiku yg sudah dekat sekali dengan pintu keluar ruangan itu, dengan cepat dan buru2 aku berjalan menuju pintu keluar itu.
"Ellaaa...wait...!" Seseorang dibelakangku berteriak memanggil namaku.
Ryan tergopoh2 berjalan kearahku sambil lalu mengajakku keluar ruangan. Ada apa ini sih? Koq jadi dia yg menyusulku, dan bukan salah satu dari kedua cowo itu? Hmmm.
"Ella...kamu ditunggu Rio dan Josh diluar....."
HAH? Koq ditunggu? Bukannya tadi si Josh lagi sama tuh cewe? Pikirku heran. Namun tampaknya memang si Ryan ga bercanda. Pandangannya cukup serius, dan lalu dia bilang, "Udah cepetan.... Mereka nungguin dideket lobby. Gih..."
Aku pun berjalan menjauhinya, sambil masih memadangnya heran.
"La... whatever happens,...be tough ya girl..." Katanya lagi sambil melambaikan tangannya.
bersambung ke edisi terakhir..... *horeee kelar juga heheheh*
Editor's note:
Thank you yach uda pada setia baca.... maap seribu maap sampe telat banget gini yg ke 9'nya. Hehehe *nyengir malu* =]
I'll be back next week for the final ending.... ;)
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


