- Thursday, October 23, 2003
The Verdict?: Cerita Mereka edisi VIII
"Bella?"tanyanya perlahan sambil melihat dalam2 kearah mata sang gadis. Oh Tuhan, semoga gak terjadi apa2 semalam! Josh terus berpikir sambil mencoba mengingat2 kembali apa yg terjadi.
"Morning. Hmm kamu masih pusing gak? hangover ga?....." tanya sang gadis sambil menyentuh dahi Joshua lembut. Cowo itu agak terheran2, rasanya semalam gadis ini keliatan begitu nakal, begitu mengundang.... tapi pagi ini, tanpa make-up dan bajunya yg terbuka2 itu seperti sudah diganti dengan kemeja panjang'nya Josh, makin keliatan cantik dan polos.
"Oh my.... Did... something.....happened...... last nite? Did we....?"
Gadis itu tertawa renyah. Tampangnya masih amat polos dan baik. Disentuhnya lembut tangan Joshua lembut sambil diam2 menyimpan senyumannya.
"Silly...of course not. Hmm you really don't remember anything at all, do you?"tanyanya sekali lagi.
Joshua menggeleng-gelengkan kepalanya. Sama sekali gak inget, what just happened? Pikirnya sambil menatap kedua mata sang gadis. Ada sinaran disana, sepertinya memang nothing happened. Sigh. Tenang aku, pikir Joshua sambil berusaha berdiri. Lalu ia melihat memang ternyata semalaman dia tertidur dengan pakaian lengkap.
"Hmm kamu gak inget kejadian semalem? yang kamu mabuk, trus temen2 pada takut kalo kamu setir sendirian pulang. So mereka pada nyuruh kita pulang bareng, aku yg setirin....."
Gadis itu menatap lembut kearah Joshua yang perlahan2 semakin ingat apa yg terjadi. Dan emang untungnya nothing happened between them. Fiuh. Untung...untung....
Josh tersenyum lembut kearah sang gadis. Hmm ni cewe manis juga�. Ternyata pakaiannya tadi malem tidak mengartikan bahwa dia cewe nakal.
"Trus? You took me home and we just fell asleep?...."tanya Josh sekali lagi.
"No...well, yeah...sort of. Hm kita sempet ngobrol2 bentaran, meskipun kamu mabok banget, tapi tetep aja bisa ngebawel...."goda sang gadis sambil mengerling nakal.
"Hehehe......dasar.... hmmm thank you banget yah non, sorry banget ngerepotin kamu. Hmm aku semalem gak.... gak coba macem2 ama kamu kan?"tanya Josh hati2. Dia sekali lagi pingin memastikan bahwa memang semalam tidak ada hal-hal yg aneh2 yg terjadi diantara mereka berdua.
Bella menatapnya lembut sambil menggeleng2kan kepalanya. Lalu gadis itu berkata, "Mungkin sekilas aku pingin something happened....tapi kamu, hm kamu masih tetep a true gentleman, Josh...."
Josh tersenyum lega mendengar jawaban sang gadis. Dalam hati dia merasa amat sangat bersalah. What did I do? Masa sekarang gadis semanis dia kudu patah hati gara2 perbuatanku semata? Ah, sinting! Kamu gila Josh! Cowo itu pun menyalahkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, mereka berdua pun siap2 untuk pergi meninggalkan rumah itu. Josh lega sekali ternyata meskipun semalam hatinya benar2 kacau, toh akhirnya gak terjadi apa2 antara dia dan gadis manis itu.
Sepanjang perjalanan di mobil, mereka ngobrol2 santai, Joshua berusaha mengenal sang gadis kembali. Ingatannya mengatakan bahwa memang semalam, Bella lah yg mampu membantunya melewati masa2 susah itu. Dan gadis ini yg bisa membuatnya tersenyum kembali pagi ini.
Lalu dihari yg sama, disuatu sore disisi lain dikota itu.....
"Sayang..... tuh ada Rio diluar...dia nyariin kamu.... Keluar gih...."kata Mama sambil mengusap2 rambutku. Sore itu aku baru saja pulang kantor belum ada satu jam, masih berasa capek2nya setelah seharian diluar rumah.
"Hmm, Mama bilangin aja deh aku lagi bobo......"Tolak sang gadis sambil masih membaca2 majalah Glamour edisi terbaru itu.
"Lho... Kenapa nih? Ini Rio lho.....sana temuin dulu lah, kesian dia udah nungguin dari tadi sejak mama belum pulang. Kayaknya ada yg penting banget dia mo omongin ke kamu tuh...."
Aku mendesah pelan sambil menutup majalah itu. Melihat tampang mama begitu serius, aku tau pasti Rio sudah membicarakan sesuatu dengan beliau. Akhirnya setelah di paksa2, aku pun tukar pakaian dan berjalan menuruni tangga. Brenda ternyata sudah duluan menyambutnya. Mereka berdua sedang asyik bermain bersama. Dan seketika juga, dilihatnya Rio menggendong anjingnya itu dan berjalan menuju kearahnya.
"Alo non..."sapa Rio sambil mendekatiku. Diturunkannya Brenda dari gendongannya, lalu kami pun berjalan berdua keluar, ke teras belakang. Pemandangan diluar sana sudah agak2 sejuk. Matahari pun sudah hampir terbenam.
Aku terdiam aja menatap kearah pemandangan indah itu. Cowo itu mengajakku duduk dibangku taman sambil sama2 berhadapan muka. Lalu selama 20 menit, dia pun berbicara, sementara aku cuma mendengarkannya saja.
Rio mengatakan semuanya tentang pertemuannya dengan Josh dan semua yg telah mereka bicarakan. Dan dilihat2 dari gaya bicaranya, aku bisa melihat bahwa memang Rio sudah bertekat untuk merebutku dari sisi Joshua. Ah, sebegitu egoisnya kah cintanya padaku? Atau, apakah emang harus begini.... ? You have to fight for the one you love? Pikiranku melayang kemana2, sementara cowo tampan itu masih disisiku, berusaha meyakinkanku bahwa cinta memang harus diperjuangkan.
"Lalu bagaimana dengan Cindy? Kamu udah bilang sama dia?"tanyaku tiba2 setelah kami berdua terdiam cukup lama. Rio menatapku kaget, kemudian tersenyum ramah.
"Cindy.... Cindy sudah membatalkan tunangan kami beberapa hari yg lalu. She called to tell me that she has found someone new. Katanya sih cowo ini udah ngejer2 dia dari dulu, anaknya konglo lagi... so, it's over, 'cel. Dan harusnya aku udah tau dari dulu kalo she's not the one. Apalagi sejak kita ketemu lagi, it's weird.... it's like I can't take my mind off of you...." Rio menatapku dalam2 seolah2 ingin meyakinkanku bahwa sejak saat ini, hanya ada aku dihatinya.
Setelah mendengar segala penjelasannya itu, aku agak kaget juga karena ternyata Josh memberi tahu tentang "deal" kita ini, yg menurutku tidak perlu org lain tau kecuali kami berdua. Kata Rio, dia sebetulnya merasa bersalah pada Josh, tapi lewat kesempatan ini, dia akan berusaha terus, sementara itu dia juga merasa Josh kurang kuat cintanya padaku. Menurutnya, kalo memang Josh cinta mati sama aku, harusnya dia gak boleh mengalah begitu saja, apalagi memberi break-up time seperti ini. 2 bulan untuk memilih? Rio bilang, "we've known each other for more than 10 years, apalah artinya menunggu 2-3 bulan lagi nungguin kamu..."
Setelah itu aku pun berusaha bilang kepadanya, bahwa aku sekarang bener2 butuh waktu untuk sendirian. Butuh waktu untuk berpikir tentang keduanya. Dua pria yg sama sekali tak ingin kusakiti itu. Karena memang mereka berdua punya tempat yg significant dalam hatiku.
"'Cel..... kamu percaya gak kalo ternyata setelah sekian tahun lamanya kita kenalan, sekarang ini aku paling yakin bahwa memang you are the one for me. I've come to realize that my world had always have you in it.... katanya sambil berbisik ditelingaku. Saat itu aku mengatakan padanya, bahwa kalau memang kami berdua sudah ditakdirkan bersama, maka biarlah waktu yg menentukan.
Rio terdiam sesaat lalu menggandeng lenganku untuk masuk kedalam rumah. Mama melihat kami masuk berdua lalu memanggil2 kami untuk makan malam bersama. Malam itupun kami bertiga makan malam bersama.
Dilain tempat, terlihat Josh dan Bella baru saja tiba tempat tujuan mereka. Mereka berdua nampaknya sudah semakin dekat dan comfortable with one another. Ternyata Bella adalah seorang gadis yg lumayan talkative dan enak diajak ngobrol. Josh diam2 mulai mengagumi pribadi cewe di sebelahnya itu. Cara bicaranya memang sekilas agak2 mirip dengan Grachella. Bedanya cuma cara ketawanya saja. Cewe yg satu ini emang teramat manis dan imut-imut.
Josh tak sampai hati untuk diam2 melirik kearah Bella. Sementara itu sang gadis nampaknya masih belum sadar ada sepasang mata mengawasinya.
"Nahhh....sampe juga akhirnya...hehehe..." Josh melirik kearah gadis disampingnya itu yg masih duduk diam sambil sebentar2 menatap keluar jendela mobilnya itu. "Kok diem aja neng.... Kelaperan yach?"godanya sambil memarkir mobilnya disamping rumah sang gadis.
Bella hanya mengerling nakal sambil tersenyum saja. Pikirannya mulai berputar2. Ada suatu perasaan tak ingin berpisah dengan cowo yg baru dikenalnya itu. Perasaan ini sudah ada sejak semalaman kemaren Bella ngobrol2 dengan Joshua. Cowo yg begitu baik dan gentleman-nya, yg baru saja menyadari bahwa cewe yg disayanginya selama ini, ternyata punya perasaan lain terhadap teman baiknya.
Bella menganggukan kepalanya sekali sambil tertawa. "Emang kenapa kalo laper? Kamu gak laper? Masih kembung beer gak?" godanya sambil menatap nakal kearah Josh. Lalu mereka berdua pun tertawa2. Akhirnya Josh menyalakan kembali mesin mobilnya, dan mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya disana, Josh memarkir mobilnya lalu turun dan membukakan pintu buat Bella. Mereka berdua pun berjalan mendekati laut biru itu.
"Bel....thanks banget yah... you really helped me going through a very difficult time last nite..."Kata Josh memulai pembicaraan mereka. Cowo itu sesekali memandang kearah lautan luas yg terbentang didepan mereka berdua. Hatinya mulai membaik setelah tadi dimobil sempat ngobrol2 banyak dengan gadis itu. Ah, seandainya aku kenal dia terlebih dahulu...mungkin... Hmm. Ditepisnya pikirannya itu cepat2 sewaktu Josh mulai sadar kalau Bella sedang mengamatinya dari dekat.
Wajah mereka berdua dekat sekali. Berhadap2an sambil menatap dalam2 ke arah sorotan mata masing2. Josh sempat menahan nafasnya dalam2. Ada satu perasaan lain yg timbul barusan ini, ketika mereka duduk berdekatan seperti itu. Hm, perasaan apakah ini? Josh berusaha mencernanya baik2, satu rasa yg kayaknya timbul ketika seseorang baru saja menyadari bahwa dia sedang jatuh cinta. Oh no.
Secara refleks, Josh cepat2 berdiri. Dia pun berjalan menjauhi sang gadis yg masih menatapnya bingung sambil mencoba mengerti suasana hati cowo itu.
"Kamu masih kepikiran pacar kamu itu ya?"tanyanya pelan sambil menghampiri sang pemuda berbadan tinggi itu. Yang ditanya cuma menatapnya sebentar, lalu melihat kearah laut yg luas itu dengan pandangan kosong.
"Aku bakal kehilangan dia...pasti..... I'm losing her, Bel....Josh menjawab dengan nada lirih.
Bella menyentuh lengannya lembut, lalu menggandengnya untuk berjalan2 menyusuri pantai itu. Tempat ini begitu strategis, sepi dan enak sekali buat jalan2 berduaan.
"Josh....kalo kamu bener2 sayang sama dia, harusnya kamu bahagia kalo memang pacar kamu itu nantinya bisa bersama2 dengan orang yg ia cintai....." jawab Bella tanpa bermaksud menyindir. Dilihatnya raut muka sang pria yg sepertinya sudah lama dikenalnya itu dengan perasaan begitu sayang. Oh my gawd, I'm falling in love with him! Pikirnya cepat2. Gadis itu merasa begitu malu, tapi ditepiskannya semua rasanya itu, dan hanya satu yg ingin dia lakukan, membantu Josh untuk keluar dari kesedihan ini.
"Iya....that's what I thought too. Aku juga kepingin dia bahagia, meskipun rasanya pasti sakit sekali kalo kenyataannya memang dia akan memilih cowo itu. Kami udah hampir 4 tahun sama2, Bel.... Isn't that supposed to mean something to her???"tanyanya kembali dengan nada agak2 stress.
Bella menatapnya dengan sabar. Hatinya tau, kalo dia ingin mendapatkan cowo ini nantinya, semua yg dilakukannya kini harus lebih hati2 lagi.
"Aku gak tau kapan saat yg tepat untuk mengatakan padanya bahwa aku rela dia pergi....karena memang, I don't know if my heart is ready to let her go...."jawab Josh dengan tenang. Wajahnya mulai sayu dan keliatan agak2 stress lagi. Bella cepat2 mengajaknya untuk pergi ke mobil, karena hari sudah semakin sore menjelang malam.
Dimobil Josh sempat berpikir, seharian ini dia ditemani gadis manis yg amat baik dan pengertian. Bagaimana nasibnya besok jika dia mulai sendirian? Atau mungkin nanti malam, ketika rindunya mulai tiba? Pemuda itu menarik napasnya dalam2 setibanya mereka didepan rumah Bella. Setelah mereka berdua berpamitan, Josh pun mengendarai mobilnya menuju kompleks perumahan yg sudah tidak lagi asing baginya.
"Hmm telpon dulu ga ya?"pikirnya dalam hati. Namun setelah ditimbang2, daripada bingung mau ngomong apa ditelpon, mendingan dia langsung aja muncul dirumah doi. I haven't seen her for almost 3 days in a row...pikirnya lagi sambil cepat2 ditancap gasnya menuju rumah gadisnya itu.
Sementara itu, dirumah Grachella, lampu meja makan masih menyala.....
Aku, mama dan Rio masih duduk2 sambil bercakap2 di meja makan. Adikku Ulin masih belum juga pulang kuliah, sementara Andy baru saja menelpon mama kalo malem ini dia bakalan pulang malem lagi. Tak lama kemudian ada telpon masuk. Dari papa. Mama segera pamit masuk untuk ngobrol2 dengan Papa ditelpon. Kelihatannya malam ini Papa harus tugas malam lagi di hospital.
Akhirnya tinggallah kami berdua masih dimeja makan sambil menikmati irisan buah mangga yg disiapkan oleh bibi. Sambil ngobrol2 akhirnya kami pindah keruang tengah untuk nonton acara di TV. Aku sendiri coba untuk ngga mikirin apa2, mumet rasanya kalau harus terus berpikir tentang masalah itu.
Ting...tong...
Kami berdua langsung berpandang-padangan, lalu masing2 melihat ke jam tangan, sudah pukul 9:30 malam, siapakah yg bertamu jam segini?
Tak lama kemudian, aku mendengar pintu depan dibukakan oleh bibi, lalu sepertinya tamu itu masuk kedalam langsung. Ia berjalan menuju ruang tamu lalu lewat kedekat dapur dan akhirnya sampai....
"EH?" pikirku sewaktu melihat sosok tubuh yg sudah belakangan ini gak pernah nongol dirumahku. Rio kaget melihat siapa sang tamu itu, lalu cepat2 mengecilkan volume TV. Aku berdiri dan menyambutnya langsung.
"Hey..... ! apa kabar kamu...." Sapaku ramah sambil berusaha ga mengubris tatapan aneh itu dalam pandangannya. Tatapan yg aku pernah liat sebelumnya, sekarang muncul lagi. Ah, kenapa sih selalu begini kejadiannya ?
Josh sepertinya berusaha menenangkan dirinya sendiri, dan dia memelukku erat sambil berbisik, "I miss you so much...."lalu iapun menyapa Rio.
Josh sepertinya sengaja masih merangkulku karena Rio masih duduk disitu. Yang disapa hanya tersenyum saja kearah kami berdua. Aku melihat sekilas ada tatapan cemburu dimatanya, tapi yg namanya Rio paling pinter kalo soal begini. Akhirnya karena keduanya sudah disitu, aku pikir biarlah kami ngobrol2 bertiga, bisa saling kenal lagi, namun ternyata Josh merasa amat terganggu.
"Hm honey...can we talk? Just the two of us?"pintanya sambil menggenggam tanganku erat2.
Aku melihat kearah Rio sebentar lalu,...
"cel, aku pulang deh... call you later. Yuk Josh....."Rio pun berpamitan pada kami berdua, lalu berjalan kearahku dan menyentuh lenganku lembut dan menatap dalam2 kemataku. Aku benar2 berasa begitu aneh, dengan satu tangan digenggam Josh, dan lengan yg lainnya tersentuh tangan Rio dengan lembut. Oh gawd.
Setelah dia pergi, Josh melepaskan genggamannya dan langsung duduk di sofa menjauhiku. Tatapannya aneh sekali. Seperti marah, tapi kok bisa tiba2 berubah gitu sih? Pikirku dalam hati. Aku pun berjalan kearahnya dan duduk disampingnya.
Sepuluh menit aku tunggu, masih ga ada sepatah katapun yg keluar dari mulutnya. Wajahnya hanya bengong melototin TV sambil sesekali memencet2 channel up-down di remote TV itu. Lalu...
Dibantingnya remote itu ke meja, sampai aku kaget setengah mati. Sifatnya yg kayak gini nih yg udah lama ga keliatan, pikirku sembari memungut remote itu yg terjatuh ke lantai.
"Aku mo ngomong!...." katanya tegas. Suara background di TV masih menyala, lalu aku menatapnya tajam, sambil mematikan TV itu.
"Kenapa sih kamu.... Kok kasar banget..." Jawabku agak sedikit kesal. Dia tau, Josh tau persis gimana aku gak suka dibentak seperti itu. Dulu kami pernah berantem berat gara2 dia marah dan membentak2 dengan keras. Setelah itu kami berdua pun berjanji, siapapun yg lagi marah, akan coba ngomong dengan halus dan gak pake gaya bentak2 lagi.
"Bagus ya......bagus..." katanya sinis sambil menatapku.
Eh? Aku menatapnya dengan padangan aneh. Kenapa sih dia ini? Tadi bermanis2 didepan Rio, masih bisa menggengam tanganku segala, tapi kok tiba2 jadi gini?
"Bagus apanya......"jawabku sesabar mungkin. Kusentuh lengan kirinya lembut, tapi dia menepiskannya.
"Jadi selama 3 hari ini, tiap malem si Rio kencan disini? Duduk deket2an sama kamu nonton TV berduaan gitu?!??" bentaknya dengan keras sambil menatap tajam kearahku.
Sambil mendesah pelan, aku berusaha untuk tetap tenang dan gak berpancing emosi karena dibentak seperti itu. Saat ini aku menyadari lagi kalau memang kelemahan memang disini, disaat2 dia paling terpancing emosi karena cemburu. Maka sebisa mungkin aku menahan rasa kesal ini, sambil menatapnya sabar.
"Denger dulu....jangan bentak2 dulu hon...."Kusentuh lagi lengannya, mengajaknya untuk jalan2 keluar halaman, takut kalo kita ngobrol disini, Mama dikamar sebelah bisa terganggu.
"Udahlah! Aku capek kayak gini! Kita putus aja!!!!"ditepisnya tanganku seketika itu juga......
Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Kaget sekali. Kok jadi begini sih? Dan cowo itupun berjalan menuju pintu luar tanpa menoleh lagi kebelakang.....
bersambung ke edisi 9
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


