- Friday, October 03, 2003
The Surprise: Cerita Mereka edisi IV
...kringgg...kringgg...
Aku melirik sebentar, ah bukan suara weker. Kubuka sebelah mataku, dan ternyata bunyi yg amat mengganggu itu berasal dari handphoneku.
Dari layar displaynya tampak nama sang pengirim. Iyo HP.
"Hmmm?" jawabku malas2an. Duh, hari sabtu sepagi ini udah ada yg menelpon, umpatku dalam hati. Kalo yg menelpon bukan Rio atau Josh, rasanya ga bakalan aku angkat deh. Mataku membuka sedikit, hanya untuk mengintip jam yg tertera di layar hape-ku itu. 7.04am. Astagaaaa..
"cel. Dapet pesen gue semalem ga?" tanyanya dengan nada sedikit aneh. Dari suaranya aku bisa menebak, sepertinya ada pesan penting tadi malam yg harusnya sampai di aku. Pesan apa sih? Pikirku dalam hati. Duuu padahal masih ngantukkkk. Terpaksa ku buka mataku dan keliatan ada satu gambar amplop di layar hape, tanda ada 1 new text msg.
"Ga dapet yo gue ketiduran semalem, ga makan malem juga..."kataku singkat sambil coba melihat apa isi pesannya itu.
Heh? Call him? Something he needs to tell me? Pikiranku campur aduk penasaran. Ada apakah gerangan?
"Oh pantesan. Gue tunggu2in response kamu sekitar 2 jam lebih. Trus akhirnya ketiduran juga deh."Jawabnya dengan suara mulai membaik. Ada nada kelegaan terdengar dari sana.
Lalu secara singkat, Rio langsung mengajakku untuk ketemu. Breakfast at Tiffany's, katanya. Hm? Tiffany apaan sih? Tapi dia hanya berkata, Youll find out soon enough. Udah sana mandi2 dulu neng. Nanti gue jemput 1 jem lagi, ok?
Ah, nyebelin juga. Jadi penasaran gini aku jadinya. Setelah tutup telpon, buru2 aku bangun dan menuju kamar mandi.
Setengah jam kemudian, setelah rapih dandan, lengkap dengan pakaian kebesaranku, jeans + atasan putih garis2 pink, aku jalan turun kebawah. Ternyata cowo itu udah lama sampai dirumahku, sedang duduk sendirian di ruang tamu sambil bermain2 dengan brenda, anjing golden retriever kami yg baru berumur 9 minggu itu. Brenda menyalak2 sambil mengendus2kan hidungnya kearah sepatu Rio. Lalu sewaktu melihatku turun tangga, brenda langsung lari mengejarku, dan dijilat2nya kakiku sambil menatapku dengan mata puppynya, minta digendong.
"kenapa sayang? Mau digendong? Aduh kasian blum makan ya?"Aduh puppy eyesnya itu, aku pun ga sanggup untuk menolaknya. Lalu jongkok utk menggendongnya sambil berjalan kearah cowo ganteng yg udah menungguku dengan sabar. Rio yg melihat itu, hanya bisa tersenyum sambil menggeleng2kan kepalanya. Mengajakku untuk segera pergi setelah kami berpamitan dengan Mama.
Kamipun berjalan kemobil, lalu hp-ku berbunyi. Josh HP.
"Bentar yo..."Lalu buru2 kuterima telponnya sebelum sempat kami masuk ke mobil. Rio mengangguk singkat lalu berjalan masuk kemobilnya. Ada tatapan cemburu dimatanya yg aku sendiri berusaha untuk ga menggubrisnya.
"Hai honey. Udah bangun?"terdengar suara Josh dari sana. Suaranya yg begitu kalem, tiba2 membuatku jadi merasa bersalah.
"Hai....udah koq. Kamu baru bangun? Hmm Josh, aku ada janji pergi...sama Rio."Jawabku setelah memutuskan untuk tidak berbohong padanya. Kutunggu beberapa detik jawaban dari Josh, kalo2 misalnya dia sampai cemburu berat dan menyuruhku untuk tidak pergi. Ternyata kalimat yg keluar dari mulutnya benar2 diluar dugaanku.
"Ohh....breakfast yah? Oke oke aku mau pamitan sama kamu, itu lho inget kan aku bilang, Steve dan anak2 laennya pada ngajakin hiking sabtu ini"
Oh iya benar, tiba2 aku ingat. Josh memang pernah bilang minggu lalu bahwa cowo2 itu bakalan pergi hiking. Dan biasanya, no girl allowed. Bisa sih kalo aku mau ikut, tapi berhubung teman2nya itu masih banyak yg single, jadi kebanyakan kalo acara2 sports gitu, biasanya aku ga ikutan. Aneh juga rasanya kalo pergi bareng2, tapi hanya aku dan Josh yg berpasangan.
"Oh iya iya aku inget....ohh okeh have fun nanti disana....Hm udah mau brangkat skrg?"jawabku singkat. Ada sedikit nada lega juga. Josh memang luar biasa. Jarang sekali dia cemburu bahkan rasanya ga pernah kami sampai ribut besar gara2 suatu hal.
"You too. hmm nanti aku telpon ya.... I've to go, Steve is coming over soon. Bye honey. Love you..."jawabnya lagi lalu kami pun menutup telpon bersamaan. Lalu dengan cepat aku melangkah menuju mobil Rio yg sudah nyala mesinnya, membuka pintu lalu masuk. Didalam sana, ternyata sang pengemudi juga sedang ditelpon. Mukanya seperti sedang memikirkan sesuatu, seperti tidak mendengarkan satu kata pun yg diucapkan sang penelpon.
"iya iya aku dengerin koq....ok ok..nanti aku telpon balik ya...ok...bye..."jawabnya singkat sambil melirik kearahku, lalu menutup telponnya. Aku berusaha pura2 gak mau tahu siapa sang penelpon itu, dan kenapa nada Rio seperti buru2 takut ketangkap basah bila aku mendengar percakapannya.
"Sorry tadi ada telpon dari Joshua."Dan kami berdua pun terdiam. Ada sesuatu yg aneh dari tatapannya, dari tingkah lakunya pagi ini. Tapi aku berusaha untuk pura2 gak tau saja, biarlah dia yg memulai duluan, pikirku.
Lima menit, sepuluh menit, duapuluh menit. Kami berdua didalam mobil hanya terdiam sambil mendengarkan radio. Rio hanya sesekali bertanya kalau2 aku kedinginan karena AC mobilnya. Sampai akhirnya kami berduapun sampai disatu tempat, satu restaurant diatas bukit, yg bernama Breakfast at Tiffany.
Tempat itu keliatan biasa sekali dari luar. Rapih sih, cuma ga seperti tempat2 makan yg Josh suka mengajakku. Namun saat aku dan Rio masuk kedalam, langsung seketika saja aku jatuh cinta dengan pemandangan diatas teras restaurant itu. Waitressnya pun segera mengajak kami berjalan ke satu meja yg sudah tersedia lengkap dengan hidangannya. Aku menatap bingung kearah cowo disampingku itu. Kok bisa udah ada makanannya? Dan ini bukan makanan bekas orang, tapi memang sepertinya sudah disengaja disiapkan begitu.
Rio hanya tersenyum melirikku, lalu mengucapkan terima kasih kepada sang pelayan.
"Duduk dulu cel. Gue mo ke restroom...."
Lalu kuperhatikan ada beberapa waitress yg aku lihat, sedang membungkukkan badan mereka, memberi hormat pada Rio, sewaktu cowo itu berjalan didepan mereka. Hm aneh sekali, pikirku heran. Tempat apaankah ini? Kok rasanya para pelayan2 itu sudah kenal baik dengan Rio.
Setelah beberapa menit, Rio kembali kemeja kami lalu
"Suka ga makanannya? Blon dicobain? Udah cobain aja langsung, ngapain nungguin gue..."godanya sambil menuangkan jus ke gelasku.
Aku hanya pura2 melotot padanya lalu menoleh kearah kananku, melihat satu pemandangan yg luar biasa indahnya. Hari itu memang agak2 dingin karena sedikit mendung, jadi terlihat suasana pemandangan laut yg jernih, dengan awan2 yg melayang2 diatas. Indah sekali tempat ini, pikirku lalu berbalik arah dan ternyata Rio sedang menatapku dalam-dalam. Seperti sedang memikirkan sesuatu yg hendak dikatakannya, namun masih tertahan.
"Kenapa...?"tanyaku singkat, hanya itu yg mampu kutanyakan. Rasanya ingin menebak kembali apa isi hatinya saat itu, namun aku takut. Gak tau kenapa, untuk pertama kalinya aku berkenalan dengannya, saat itu aku takut sekali dengan hubungan kami yg sudah lebih dari teman dekat biasa.
"Ga papa. I just realize.. "lalu dia terdiam. Mungkin menungguku untuk bertanya, namun aku hanya menatapnya balik dengan pandangan polos biasa. Hati ini memang agak deg2an bila ditatapnya seperti itu, dan bukan dulu sekali, aku pernah merasakan hal yg sama seperti itu. Hanya saja, dulu aku ga pernah menggubrisnya.
Rio pun batuk perlahan sebentar, sebelum meneruskan kata2nya. Aduh, mo ngomong apa siy, pikirku gregetan sambil berlagak santai dan kalem.
"I just realize how stupid I was, ... not to notice you."Lalu kami sama2 terdiam. Aku agak tersendat sedikit lalu cepat2 mengambil gelasku, menegaknya dan tersenyum malu. Rio keterlaluan. Ngapain sih tau2 ngegombal begini? Aduh mati aku.. saat itu benar2 rasanya malu luar biasa. Mana pernah kami sampai kayak begini? Aku, sejak dulu mengenalnya, memang tau bahwa dia dulu memang bekas playboy kelas tinggi. Rayuannya terdengar begitu simpel dan tulus, sehingga sejak dulu memang banyak cewe2 yg jatuh hati padanya.
"hm? Kesambet apa yo.. inget, ini gue ecel...bukan Cindy"godaku sambil coba membuka suasana aneh diantara kami ini. Cindy, adalah salah satu cewe yg sempat diincar Rio selama bertahun2 dulu itu. Yang lalu sempat menjadi pacarnya yg aku sendiri gak tau gimana kelanjutannya sekarang.
Rio terkejut sebentar, lalu berusaha tetap serius menatapku.
"Cindy dan aku sudah bertunangan..."Jawabnya singkat.
DEG. Oh my gawd! lelucon apa ini???Pikiranku seketika langsung diam, frozen. Gak tau musti bilang apa, aku hanya diam dihadapannya sambil meremas2 saputangan yg ada dipangkuanku. Tunangan? Rio sudah tunangan.?
"Tunangan...?"Tanyaku terbata-bata, setelah berusaha kuat untuk tidak keliatan cemburu atau gimana. Perasaan hatiku rasanya mau pecah saat itu juga. Gimana bisa aku sampai ngga tahu kalo sobatku itu sudah engaged to be married??? O gosh..
"Dengerin dulu cel.. I need to be honest with you..."jawabnya buru2 sambil berusaha menenangkan hatiku. Sepertinya ia tahu bahwa aku gak sanggup untuk terus berpura2 menutupi perasaanku. Demikianpun dia. Lalu 20 menit kedepan, terbukalah semuanya. Semua tentang dia dan Cindy, tentang apa yg terjadi padanya selama ini, dan juga, perasaannya terhadapku.
Rio dengan jujur mengatakan bahwa setelah beberapa minggu belakangan ini, sejak ia balik ke LA dan bertemu denganku, pikirannya kacau. Kacau karena dia mulai ada feeling terhadapku, sampai2 tujuannya yg kemari hanya sekitar 4 mingguan, dia batalkan sampai waktu yg ga tentu.
Lalu Cindy? Iya, mereka sempat bertunangan 2 bulan, lalu 2 minggu sebelum keberangkatan Rio ke LA, Cindy mengancamnya untuk tidak menemuiku. Memang dari dulu, Cindy satu2nya cewe yg selalu merasa terancam dengan kehadiranku dalam hidup Rio. Dari dulu, Cindy gak pernah mau kalo kami pergi sama2. Sehingga akhirnya dia pindah ke Jakarta, dan lalu mereka jadian disana, jauh-jauh dari keberadaanku.
"Aku gak tau musti gimana sama si Cindy.. but I cant, I cant imagine how a life without you in it." kata Rio sambil menatapku dalam2. Saat itu juga aku benar2 merasa serba salah. Setelah segala pengakuannya itu, aku merasa jika sejak dulu kami bisa jujur satu sama lain, mungkin semua surprise2 ini gak perlu terjadi.
Saat ini, pemuda ganteng yg ternyata amat sangat kusayangi itu, sedang keliatan begitu stress dihadapanku sambil menanti jawabanku yg sepertinya bisa membuatnya sedikit tenang. Aku sendiri gak tau musti berkata apa lagi. Namun sepertinya nama Joshua masih ada diotakku sendiri. Rio tadi berkata jujur bahwa dia musti ada feeling lain terhadapku. Bahwa sejak ia sampai di LA dan ketemuan denganku lagi, sepertinya hatinya berat untuk berpisah denganku lagi. Namun Cindy, sepertinya sudah mengikatnya sebegitu sesak, sehingga selama ini dia sadar, meskipun dia terus mencoba untuk menjauhi perasaannya, ancaman Cindy pun ga mampu untuk menjauhkan perasaan hatinya kepadaku.
"Iyo. Aku masih ada Josh. Kamu masih ada Cindy."Akhirnya kuputuskan untuk berkata begitu. Supaya kami masing2 tetap jelas dimana letak situasi yg mendadak menjadi begitu tegang ini. Rio menatapku lagi, kali ini aku lihat sekelibat ada yg berkaca2 dimatanya yg ternyata, sangat indah.
"Grachella."
Aku kaget. Dia ga pernah memanggilku begitu bila memang tidak benar2 terpaksa, ataupun sedang mencari perhatianku supaya aku bisa melihat jauh ke lubuk hatinya bahwa dia sedang amat sangat serius. Aku ingat terakhir dulu dia memanggilku begitu, sewaktu aku sedang menangis tersedu2 karena sesuatu hal, lalu dia hendak menghiburku dan memelukku. Ah, peristiwa itu. Udah hampir 12 tahun lamanya.
"I mean every single thing I said about you. About us."Lalu dia terdiam sebentar, sebelum melanjutkan.
"Damn girl.. I think I've fallen in love with you.. "
bersambung ke edisi 5
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


