- Friday, October 10, 2003
The Request: Cerita Mereka edisi VI
Lalu, entah kenapa, dia melihat bagaimana lengan kiri Rio melindungi aku dengan jaketnya, langsung disodorkannya payung itu kepadaku. Rio pun ikut terdiam.
"Pake payung ini, nanti kamu sakit keujanan...."katanya pelan sambil menyodorkan payung itu kepadaku lalu berjalan menjauhi kami.
Sementara itu, dari balik tubuhnya aku melihat jelas gimana air hujan yg turun deras itu, mulai membasahi rambutnya dan bajunya. Ah, perasaanku saat itu juga hancur lebur. Dia tidak menyalahkanku! Tapi masih begitu sabar dan perhatiannya, malah memberikan payungnya padaku sampai iapun kehujanan begitu.
Spontan langsung aku membawa payungnya, lepas dari pelukan jaket Rio, lalu berlari mengejarnya.
"Josh...wait...!"teriakku sambil terus mengejar kearah mobilnya yg ternyata di parkir agak jauh dari rumahku. Cowo itu masih terus berjalan tanpa menoleh kebelakang. Sepatuku basah semua, terus menginjak2 ke genangan air itu dengan tak peduli lagi. Aku harus menjelaskan semuanya! Pikirku saat itu.
"Josh!!! Wait for me please...."teriakku semakin kencang. Suaraku mulai serak, airmataku mulai jatuh terus dan terus.
Belum sampai kemobilnya, cowo itu akhirnya menoleh kebelakang. Melihat keadaanku yg meskipun berpayungan tapi karena aku berlari, seluruh bajuku basah. Dia terdiam menungguku, lalu....
"kenapa? Kok jadi ujan2an gini kamu....?"dia memelukku dari samping dan mengajakku masuk kemobilnya. Cepat2 dibukanya pintu mobil dan menyuruhku masuk.
Didalam mobil aku mulai gemetaran. Dingin sekali. Joshua pun tak lama kemudian sudah duduk di sisi pengemudi, melihatku se bentar lalu menatap lurus kedepan. Aku masih melihat rasa kemarahannya itu, tapi aku tau, selama kami jadian, gak pernah sekalipun dia marah padaku sampai seperti ini.
"Josh...please let me explain...."akupun mulai mencoba menjelaskan padanya, sambil masih terisak-isak dan mengusap airmataku. Cowo itu diam saja, mendesah berat lalu akhirnya berkata,
"Explain what."
"Tentang aku dan Rio....kami, we didn't do anything. Kamu tau posisi aku dan dia, dari dulu aku juga udah pernah cerita sama kamu kan...." kataku sambil memelas menatapnya. Kusentuh lengan kanannya lembut sambil mencoba menarik perhatiannya. Dia masih belum mau menatapku.
"Sudahlah... no need to explain...." Katanya singkat lalu menstarter mobilnya. "Aku anterin kamu sampe depan rumah...."Jawabnya singkat. Nada kemarahan itu masih ada disana, sampai2 aku putus asa. At least kalo dia marah2 sekalian, mungkin semuanya bisa lebih gampang dijelaskan. Tapi ini beda. Cowo ini masih mencoba untuk sabar kepadaku, meskipun aku tau, mungkin saat ia melihat Rio tadi, kalo aku tidak disana, mungkin udah ditonjok sampai babak belur.
Josh bukanlah orang yg gampang emosi. Tapi jika memang dia marah, menurut cerita teman2nya, bisa lebih galak dari singa yg diusik sewaktu tidur.
Aku diam melihatnya begitu, agak kesal juga dengan perlakuannya. Namun aku berpikir, mungkin dia butuh waktu, dan mungkin kami gak harus membahasnya saat ini juga.
"Turunlah...."
Aku menoleh keluar, pintu pagar itu masih terbuka, tapi Rio sudah tidak disana lagi. Mungkin sudah masuk kedalam, pikirku.
"You wanna come in dan dry up ?"ajakku sambil membelai pundaknya. Dingin sekali perlakuannya saat itu. Sekokoh batu es yg sepertinya tidak mau mencair.
"Ngga usah.... masuk gih..."Tolaknya dengan halus, tanpa melihat kearahku. Ah, aku mendesah berat, frustrasi juga kalo lama2 begini. Akhirnya aku menuruti kemauannya, setelah kutunggu 10 menit belum ada perubahan apa2.
Setelah kuberjalan mendekati pintu rumahku, mobil Josh pun berlalu dengan cepat. Oh Tuhan, tolong lindungi dia, jangan sampai dia emosi dalam menyetir mobil dengan keadaan seperti ini. Itu doaku saat itu juga. Ada rasa kekuatiran yg teramat dalam kurasakan dihatiku saat itu.
Didalam rumah, Rio ternyata sedang duduk sendiri menantiku. Brenda menyalak2 ketika melihatku masuk kedalam.
"Oh my. What happened?! Cel? koq jadi basah begini kamu???"Rio berdiri cepat2 dan menghampiriku. Dituntunnya aku masuk kedalam. Untung dirumah lagi ga ada siapa2. Papa-Mama mungkin sedang pergi. Kedua adikku dihari sabtu jem segini memang ga pernah dirumah. Kami pun masuk keruang tengah dan duduk disana.
Rio menatapku dengan pandangan geram dan cemas.
"What did he do to you?" tanyanya gemas sambil menyentuh pundakku. Aku menatapnya sedih. Lemas sekali rasanya.
"He didn't do anything wrong. Oh no...Iyo...what did I do? What did I do???" tanyaku tiba2 mulai histeris. Aku kalut sekali rasanya. Disaat yg sama, Josh sedang didalam mobil, entah kemana, mungkin kerumah, mungkin juga ketempat lain. Sendirian. Dengan pikiran kalut seperti itu. Pikiranku mulai berputar2, tak sanggup rasanya menanggung rasa bersalah yg seperti ini.
Rio mencoba terus menghiburku dan memelukku, tapi begitu tangannya mulai menyentuhku lagi, aku menepisnya spontan. Dia agak terkejut, namun sepertinya mengerti.
"Cel..listen. Listen to me...
"Ngga. Aku ngga bisa seperti ini 'Yo...."ucapku pelan sambil menunduk. Rio memelukku dari samping, seperti tak rela melihatku seperti itu.
"Whatever it is, it shall pass. I won't go far from you..."ucapnya pelan namun tegas. Aku bingung, apa maksudnya itu? Apakah dia mau meyakinkanku bahwa kami seharusnya memang harus bersama?
Malam minggu itu, aku dan Rio hanya duduk2 saja di ruang tamu, terdiam sepertinya mencoba melupakan kejadian barusan itu. Aku sendiri masih menunggu telpon dari Josh yg tak kunjung tiba. Sudah kucoba menghubungi handphone dan rumahnya, namun masih juga ga ada kabar darinya. Tiga tahun sudah aku bersamanya, ngga pernah lewat satu haripun tanpa kutahu keberadaannya. Malam ini yg pertama.
Kurang lebih pukul 10 malam, Rio pun permisi pulang setelah hampir sejam lebih aku sibuk sendiri menghubungi Josh. Bolak balik sudah aku mencoba menghubungi handphonenya. Puluhan message sudah kutinggalkan disana, memohonnya untuk segera menghubungiku.
Tepat pukul 12:30 malam, aku masih tidur2an diranjangku, handphoneku bergetar. Aku berharap cemas itu telpon dari Josh. Ternyata caller ID menunjukkan nomer sang pemiliknya disana,....
"Hey, are you still up? wanna come out for a sec?"suara diujung sana terdengar begitu jelas. Tak lama kemudian aku mendengar suara klakson mobil dari luar. Kuintip sekilas dari tirai korden kamarku. Ternyata mobil Joshua!. Astaga, ada apa malam2 begini dia datang?
Diluar kulihat dia berdiri disamping mobilnya. Tatapannya mulai agak teduh dan bersahabat. Tersenyum melihat kedatanganku. Dia mendekatiku dan kami pun berpelukkan lama.
"I'm so sorry. I'm sorry...."
Aku kaget sekali. Kok jadi dia yg bilang sorry ? What happened? Bukankah aku yg harusnya minta maaf duluan?
"Sorry for leaving you like that. Aku tadi bener2 ga bisa mikir..."Katanya lagi sambil terus memelukku. Dia mengandengku lalu kami jalan masuk ke taman belakang rumahku. "I need to ask you something...."ucapnya sambil menyuruhku duduk disampingnya. Pemandangan malam itu memang terlihat amat cerah, mungkin karena hujan tadi sore yg menyapu sebagian.
Aku hanya menatapnya, menunggu akan apa yg diucapkan.
"Are you okay? Where have you been? Aku udah tinggalin berpuluh2 message di handphone kamu..."katamu bertubi2 sambil menatapnya dalam2. Cowo itu keliatan tenang dan raut wajahnya mulai membaik, tidak seperti tadi sore.
"I'm OK. I'm OK honey. Listen... can I ask you something?"
Hm, aku terdiam. Apakah yg hendak ditanyakannya? Aku terdiam, lima detik, sepuluh detik, duapuluh detik....
"Gracie..... aku tau dan coba ngertiin ttg hubungan kamu dan Rio. Dan aku juga ga mau egois dengan cinta kita ini...."
Aku bingung menatapnya. Apa maksudnya? Apakah karena peristiwa tadi sore maka dia berpikir kami akan putus?
"Gini..... Hmm, let's give us a chance to understand where we stand right now. Aku mau kalo nantinya memang kita harus bersama, kamu dan aku ga ada lagi keraguan. Jadi, I�m gonna give you the time you need to figure it out, and for me to find out. If,....if you feel that HE is the right one for you, and not me, then what I hope is just the best for you."
Aku kaget mendengar semuanya itu. Josh begitu dewasa, begitu mengerti akan keadaanku. Aku tau, untuk berkata2 seperti itu, pasti dia udah lebih dulu memikirkannya dalam2. Atau, ataukah dia memang tidak begitu sayang padaku, sehingga sepertinya gampang sekali melepaskanku pergi?
"Gracie? What do you say? Are we strong enough to overcome this? Aku pingin kalo kamu setuju, then let's do it. Give it a timeframe, let's say a month. Atau nanti sampai Christmas in December, 2 more months....."
"Are you sure.....of this....?"Jawabku sambil menatapnya. Relakah bila memang aku dan dia ternyata memang tidak berjodoh?
"I have to. I have to be sure....of us. Yesterday, I was so damn sure of us, and you know how I love you so much, like there's nobody else. But now...."Dia terdiam sambil membuang muka kesamping. "Please...please do this for me?"pintanya sambil memelas menatapku. Dan saat itu juga, sepertinya aku tahu bahwa nanti dalam membuat keputusanku, tidak akan segampang hitam dan putih.
Kami pun berpelukkan, dan saat itu juga menandakan bahwa dalam sebulan...dua bulan kedepan, aku dan Josh akan "berpisah" sementara. Apa yg akan terjadi, hanya Tuhan yg tau. Setelah itu, dia menyuruhku masuk. Udara diluar tiba2 terasa begitu dingin dan sepi, aku pun melangkah pergi menjauhi mobilnya. Josh menungguku sampai aku masuk kerumah dan menutup pintu.
Semenit kemudian, aku ga kuat, aku harus keluar melihatnya sekali lagi. Cepat2 kuberlari keluar, mencoba melihat apakah dia masih disana....
Dan ternyata....
"Josh....!"
"Gracie? Koq ....? Kenapa keluar lagi? Udah sana masuk sayang..... udah dingin diluar....."
Ternyata dia masih disana. Apakah dia tahu bahwa aku masih akan keluar kembali menemuinya? Aku pun memeluknya erat� seolah2 tak rela melihatnya pergi.
"Let's not do this? Yah?"pintaku sambil memelas menatapnya. Tidak, aku ga kuat begini caranya. Tapi, ah, aku begitu egois, begitu bodoh!
"Jangan sayang.... Trust me, it's for the best for both of us."
Lalu dia melepaskan pelukkannya, mengantarku masuk ke dalam, lalu cepat2 pergi meninggalkanku.
Airmataku mulai jatuh, dan hati rasanya sakit sekali. Aku terdiam disana, menatap mobilnya yg mulai melaju menjauhiku...
Dan aku pun menangis sejadi-jadinya.....
bersambung ke edisi 7
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


