- Monday, October 06, 2003
The Day: Cerita Mereka edisi V
Lucunya, Rio sepertinya mengerti jelas betapa kagetnya aku saat itu. Dan lagaknya seperti sengaja memberiku sedikit waktu untuk mencerna semuanya itu. Lalu setelah kira2 10 menit berlalu begitu saja, Rio mendekatiku. Membuka jaketnya dan memasangkannya ke pundakku dari belakang, seperti hendak memelukku. Aku sedikit kaget, sambil menoleh kebelakang.
"Kamu gemeteran. Dingin 'cel? Mau masuk aja ga...duduk didalem?"ucapnya pelan sambil agak berbisik, lalu iapun kembali ketempat duduknya. Kucoba menatap wajahnya. Begitu tulus, begitu penuh perasaan dan rasanya saat itu juga aku tau, betapa sayangnya dia padaku. Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa yg harus kukatakan?
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Mumet rasanya. Rio terdiam melihatku, serba salah. Akhirnya Rio mengajakku untuk pulang, mungkin daripada diem2an disitu.
Lima belas menit kemudian, kami berdua masih dimobil Rio. Cowo ganteng itu sekali2 melirik2 kearahku, sambil mencoba mengalihkan pembicaraan ke obrolan yg santai. Kami sepertinya balik lagi ke masa2 dulu waktu kuliah. Sesekali dia meledekku dan akhirnya rasa kaku dan kikuk yg tadi ada diantara kami, perlahan2 mulai mencair.
"neng....ada acara ga abis ini?"tanyanya sewaktu mobil Rio mulai masuk ke highway 405 yg keliatannya mulai sedikit macet.
"Hm....ga ada siy....mo diculik kemana lagi 'yo?"godaku sambil tersenyum kearahnya. Josh pasti ga akan pulang sampai malam, bahkan mungkin bisa nginep sampai besok pagi. Josh memang sering sekali pergi dengan teman2nya, hiking ato skiing, ato apalah itu segala kegiatan outdoor yg aku jarang diajak. Dan kalo udah begitu, terkadang aku hanya kesepian dirumah ditemani brenda, atau pergi2 dengan cici dan adik2ku.
"Ga ada yah? Sipppp...."jawabnya riang sambil melihat kearah jam di mobilnya. 2.14pm.
Rio mengambil arah freeway yg menjauhi arah rumahku. Dia mengajakku ketempat kami dulu sering singgah. Ada satu taman diatas bukit yang kalau malam, kita bisa melihat seluruh kota LA dari atas. Nah, tidak terlalu jauh taman itu, ada satu plaza pertokoan kecil, dan salah satunya adalah toko kesukaanku. Pet shop. Rio tau persis apa yg bisa membuatku cheer-up lagi. Dulu jikalau aku atau dia sedang ada masalah, atau suntuk ga tau musti ngapain lagi, dia sering menemaniku kesana. Hanya bermain2 dengan anjing2 yg dijual disana.
Begitu kami memasuki plaza tersebut, aku tersenyum geli. Rio masih ingat. Dia masih ingat semua kebiasaan kami, kesukaanku, ah..... semakin mabuk aku dibuatnya.
"Inget gak tempat ini? Hehehe... udah lama banget kita ga kesini yah?"tanyanya sambil tersenyum kearahku dan masih menatapku dalam2.
"Udah itu liat jalan...ntar nabrak lagi....."Jawabku malu2. Itu anak gila aja, masa nyetir malah bukannya ngeliat ke depan, liat jalanan�malah liatin aku melulu. Dia tersenyum2 lalu akhirnya mobilnya pun parkir tepat didepan toko itu. Kami turun berdua lalu masuk kedalam toko. Belum sampai lima menit kami disana, ada suara memanggilku dari belakang.
"Ella?...."Ia mencolek pundakku, membuat kami berdua serentak menoleh.
"Masih inget gue ga?....."cewe itu menatapku dengan pandangan sedikit aneh. Lalu ia pun melirik sinis ke Rio. Siapakah dia? Aku masih diam sambil mencoba mengingat2 namanya.
"Lupa yah? Ah pasti lupa deh..... gue Dessy. Masa lupa sih?"katanya sambil pura2 merenggut. Tapi pandangannya itu masih terlihat sinis. Aneh sekali.
"ohhh..hallo Des....gimana kabarnya?"jawabku sekenanya. Rio hanya tersenyum disebelahku sambil mungkin bertanya2 kenapa cewe itu sepertinya begitu sinis terhadapnya.
"Bae bae..... Berdua aja nih? Ga sama Josh?"tanyanya semakin sinis sambil melirik ke Rio, lalu menatap tajam kearahku.
Caranya menatap kami berdua, sepertinya ada satu pertanyaan besar diotaknya. Dan perlahan2 aku ingat siapa cewe dihadapanku ini. Dessy, dia inilah yg dulu sempat naksir berat sama Joshua. Dan seingatku, mereka dulu sempat jadian sebentar, tapi karena memang gak cocok, Josh mengakhiri hubungan mereka yg baru jalan sekitar 2 bulanan. Dulu aku tau dari Steve, bestfriend si Josh, kalau hubungan mereka berakhirnya agak2 berantakan. Dessy sempat histeris dan tetap bersikeras untuk mengejar2 Joshua.
"Oh engga....iya ini lagi pergi sama temen baik gue, kenalin Des, ini Rio...."jawabku setenang dan sesabar mungkin. Menghadapi orang seperti Dessy ini memang harus extra sabar. Rio mengulurkan tangannya lalu mereka berkenalan. Tapi sepertinya ada tampang curiga dimata cewe itu, seperti sedang memergoki kami sedang berpacaran saja.
"Oh ya udah deh....salam buat Josh.....gue duluan ye...."Lalu secepat kilat dia berjalan menjauhi kami berdua dan keluar dari toko itu. Rio dan aku hanya berpandang2an saja, gak tahu harus bagaimana karena memang kejadian tadi itu begitu aneh. Toh aku dan Rio gak seperti orang pacaran, gandengan atau gimana, sampe yg kayaknya si Dessy ini menatap kami berdua penuh kecurigaan.
"Mantannya Josh yah 'cel?"tanya Rio singkat. Aku agak kaget mendengarnya. Anak itu memang kadang seperti dukun saja, bisa cepat membaca situasi2 begini. Menjawabnya aku hanya mengangguk saja, lalu pura2 mencari2 anjing yg terlucu ditempat itu. Lalu kamipun sibuk bermain2 dengan anjing2 lucu itu sampai sore.
Tepat jam 5 sore, sesaat sebelum kami berdua sampai dirumahku, kulihat cuaca diluar agaknya kurang baik. Mendung dan sepertinya hujan masih terus turun dengan derasnya. Tadi memang sewaktu kami pergi dari pet shop itu, sudah kelihatan ujan rintik-rintik sehingga kami berdua sempat harus lari-lari menuju mobil Rio. Cowo itu tadinya hendak menggandengku sambil berlari, tapi entah kenapa, aku pura2 ga sadar dan lebih dulu lari didepannya.
Sesampainya dirumahku, Rio memarkir mobilnya disamping rumahku. Entah kenapa aku masih duduk diam disana. Tiba2 percakapan kami tadi di Tiffany terngiang2 kembali di otakku. Ingin sekali aku bertanya lagi padanya, gimana soal Cindy? Apakah mereka masih tetap bertunangan? Gimana status Rio skrg? Dan kenapa malah dia memutuskan untuk menetap dulu di LA at least sampai December?
Akhirnya setelah Rio mematikan mesin mobil, tanganku langsung membuka pintu mobil, lalu �
"Cel tunggu.....diluar masih ujan......"Pintanya sambil menyentuh tanganku. Mata kami bertemu. Ada kilatan tampak dimatanya yg indah itu. Aku hanya melihatnya saja, menunggunya. Rio tersenyum dan berkata, "tutup dulu pintunya....please?"
Aku duduk kembali dan menutup pintu mobilnya. Lalu mulailah ia menjelaskan lagi semuanya. Menjelaskan tentang hubungannya dengan Cindy, tentang pertunangan mereka.
"Setelah gue balik di LA lagi dan ketemu kamu, kayaknya it just hits me, how much you mean to me. So much.... sampe kayaknya gue sendiri ngeri 'cel...."
"Koq bisa? Ngeri kenapa 'yo?"balasku setenang mungkin.
Biarlah ia mencoba menerangkan semuanya, karena aku, hm aku sendiri ga bakalan mampu berbicara seperti itu, meskipun mungkin bagi dia, rasa ini semuanya baru. Tapi bagiku? Tidak, memang dulu aku sempat jatuh hati padanya, tapi sekuat mungkin kucoba untuk menolak rasa itu dan kubenam sejauh2nya dilubuk hatiku. Rio memang pernah menempati hatiku, dan kalo memang dia untukku, dulu aku sempat berdoa, � biarlah Tuhan yg merubah semuanya ini menjadi satu keajaiban yg utuh.
Rio menatapku dulu sebelum menjawab. Perhatiannya, seolah2 membaca segala isi hatiku yg paling dalam.
"Ecel, gue ternyata sayang.....sayangggg banget sama kamu....."katanya terbata-bata. Pelan sekali diucapkannya itu, seolah2 ingin menyakinkanku bahwa memang sungguh, dia sayang padaku.
Airmataku jatuh. Entah kenapa rasanya hati ini tiba2 begitu terharu seperti hendak meluap tangisku. Bukan kenapa2, tapi aku kepikiran semuanya. Gimana dengan orang2 lain dikehidupan kami berdua? Apa yg harus kuperbuat akan cinta ini?
"cel...? Are u listening..?"tanyanya lagi, seolah2 ingin membangunkanku dari lamunan itu. Tangan Rio yg tadinya ada di persneling, sekarang perlahan pindah menyentuh tapak tangan kiriku dengan lembut. Gentle sekali. Dan begitu dilihatnya mataku berkaca2, cepat2 diambilnya tissue untukku.
"kenapa nangis?.... did I hurt you?"tanyanya dengan bingung. Wajahnya berubah menjadi amat cemas. Aku tak sanggup memandangnya lagi. Kututup wajahku dengan tissue yg diberikannya.
Rio menungguku sampai tenang kembali, lalu berusaha memelukku dari samping. Menyuruhku bersandar dibahunya.
"What about you and cindy? What about the engagement?"tanyaku dibalik sela2 isakan tangisku. Saat itu aku benar2 merasa begitu egois, merasa begitu takut menghadapi cintanya itu.
Rio mendesah pelan sebelum menjelaskan padaku bahwa sebenarnya cintanya ke Cindy tidak utuh. Buktinya baru ketemu aku saja bisa langsung punya rasa lain. Dan menurutnya, Cindy mungkin tahu, jika kalau kami bertemu lagi, maka pertunangan mereka pasti batal. Maka dari itu, sejak awal sebelum kebrangkatan Rio ke LA, Cindy sudah wanti2 mengancam untuk membatalkan pertunangan mereka, tapi nyatanya Rio tetap ke LA.
"Buat apa gue nyakitin dia dengan pernikahan, jikalau memang hati ini ternyata bukan miliknya 'cel?"tanya Rio kepadaku dengan pandangan begitu yakin. Dia mendesah berat sambil menatap keluar jendela. Hujan diluar ternyata semakin deras. Aku mengusap airmataku, lalu melihat keluar.
"kok diem aja siy.... Kamu marah ya?"tanyanya sedikit kesal. Mungkin dia frustrasi juga melihatku diam begitu. Aku tersenyum melihatnya lalu menepuk2 pelan tangannya sambil menggeleng2kan kepalaku. Berusaha meyakinkannya bahwa aku baik2 saja.
"sudahlah...kita masuk dulu yuk? Atau kamu mo langsung pulang?"
Rio tersenyum kecil begitu mendengarku bicara begitu. Lalu ia menggodaku, "sekarang ganti yah ngomongnya pake gue-kamu? Hehehe...."
Mau ga mau aku pun ikut tertawa malu. Canggung sih memang, tapi kayaknya aneh kalo pake "eloe", kayaknya kasar banget gitu, pikirku dalam hati.
"ngeles terus....."Kataku pelan sambil mencubitnya. Dia mengaduh-aduh kesakitan, lalu akhirnya dia mengajakku turun.
"tunggu aku ya....jangan keluar dulu non.....masih ujan tuch...."
Kulihat keluar, memang masih ujan, tapi ga seberapa lah. Akhirnya aku menunggunya, dan sebentar saja sudah kulihat dia berlari2 sambil membuka jaketnya. Cowo itu berlari menuju pintuku, lalu aku membuka pintu dan ia mengajakku keluar. Kami berdua berlindung dibawah nuangan jaketnya itu. Rio berada disampingku begitu dekat, seolah2 dia tidak membiarkanku terkena cipratan air hujan rintik2 itu. Begitu melindungi,....
"Gracie......?"
Suara itu datang dari arah dalam pintu gerbang rumahku. Cowo bersosok tinggi yg tak lagi asing dimataku, tiba2 sudah berada tepat didepan kami. Memandang kami berdua dengan tatapan kagetnya yg seolah tak percaya akan apa yg dilihatnya saat itu.
Oh my gawd! What is he doing here? Mendadak lututku lemas.....
bersambung ke edisi 6
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


