- Wednesday, September 24, 2003
The Meeting: Cerita Mereka edisi II
Aku mendesah pelan. Kulihat jam tanganku sekilas. Ah, sudah hampir setengah jam aku menantinya. Telpon ga yah? Pikiranku menerawang sambil kuaduk2 pelan mocca capucinno itu. Ah, sms aja deh.
"iyo, kamu dimana? Masih stuck?"
Message Sent. Kutunggu balasannya. 2 menit, 3 menit, 4 menit....
Beep...beep... suara lagu "Canon in D" pun terdengar tiba2. Buru2 kuangkat handphoneku. Dia yg menelpon.
"non?"
"iya?" jawabku singkat. Dag dig dug...jantungku bergetar cepat.
"ini iyah gue masih stuck nih, gila macet banget di 101... are you ok? Tungguin yah, ato pesen dulu deh....aku mungkin 10-20 menit lagi baru sampe nih..."
Suaranya yg tak lagi asing ditelingaku terdengar ada nada khawatir dan kesal. Aku tau, dia memang orangnya tepat waktu. Sedikit telat saja, pasti akan merasa amat bersalah.
"oh pantesan lama banget... Ya udah ga papa lah, gue tungguin, nyante aja... mo dipesenin dulu gak 'yo?" akhirnya aku mencoba untuk tidak berkesan kesal karena sudah hampir setengah jam aku menunggunya. Dia menjawab tidak, katanya biar nanti pesan sendiri saja. Lalu kami menyudahi pembicaraan itu, dan aku kembali disini duduk menantinya.
*Sementara itu, diujung sana ...*
Rio menginjak gasnya, mencoba untuk mencari selah2 jalan yg kosong untuk menembus kemacetan itu. Ada apa sih, koq bisa sampe begini,....pikirnya kesal. Lalu dilihatnya disamping sebelah kanan jalan, ada 3 mobil berjajar, yg 2 penyok lumayan parah, yg satu terbalik posisinya. Oh pantesan.... Ini mah bener2 bad accident.
9.31am
Rio mendesah pelan setelah dilihatnya jam dimobilnya itu. Aku sudah membuatnya menunggu sedemikan lama, dihari ulang tahunnya! Sigh. Pemuda itu mengurut2 kepalanya, ada rasa pening disana. Sudah berbulan2 bahkan bertahun2 ia menantikan hari ini, tapi justru malah sepertinya susah sekali untuk bisa sampai ketempat itu. Tempat yg selama ini ngga pernah bisa hilang dari ingatannya. Jazz Blue Cafe Dulu waktu di Jakarta, Rio memang pernah sempat hampir membuka satu restaurant dan akan dinamainya Jazz Blue Cafe, untuk mengenang tempat itu. Akan tetapi, pada waktu ia mendengar berita bahwa gadis itu sudah menjadi milik orang lain, hatinya mengatakan jangan. Jangan membuat tempat kenangan itu menjadi nyata dihadapannya sendiri. Bukankah itu akan semakin mengiris hatinya?
Setelah seminggu sampai di LA, memang dia bertekad untuk tidak menghubungi gadis itu dulu. Tidak sampai satu hari sebelum hari ulang tahunnya. Dan benar memang, telponnya semalem telah membuatnya sedemikian cemas dan berharap2. Sudah seperti apakah gadis itu sekarang? Apakah tetap sama seperti dulu sewaktu dia pertama kali mengenalnya di acara U13?
Rio masih terus berkonsentrasi untuk menuju daerah Marina Del Ray. Daerah itu terletak sekitar 15 menit dari Santa Monica, tempat tinggal sang gadis manja yg sudah lebih dari 10 tahun dikenalnya itu. Jazz Blue Cafe, adalah satu cafe kecil disebrang pantai dan disekitarnya banyak toko2 promenade lainnya. Rio masih ingat, waktu itu dia kuliah di USC, dia sering mengajak gadis itu untuk menemaninya belajar. Atau kadang2 dia sendiri yg pergi menemaninya kesana. Apalagi kalau musim ujian, rasanya belajar ditempat lain tidak akan sama dengan belajar ditempat itu. Sambil membawa laptopnya, buku2 dan satu bolpen kesukaannya, hi hi dia geli mengingat apa yg ecel (panggilannya untuk gadis itu) pernah bilang, "loe tuch ya...modal dikit kek buat beli stabillo....Masa anak kuliah cuma punya satu bolpen??"
Ya,"ecel"adalah panggilan khusus darinya untuk sang gadis. Nama Grachella seringkali disingkat menjadi "Ella" oleh teman2nya. Tapi bagi Rio, lebih enak memanggilnya "Ecel". Katanya dulu, "bunyi "cel"nya itu harus seperti kalo loe ngomong pecel, nahh bisa kan? Kan itu pecel lele kesukaan kamu...."godanya hingga membuat sang gadis beranjak dari tempat duduknya dan mencubitnya bertubi2.
Rio mendesah lagi. Gila, itu kejadian udah berapa abad yg lalu yah? Dan Rio masih ingat dengan jelas sampai hari ini.
Akhirnya setelah keluar dari kemacetan itu, mobil Rio keluar dari jalan tol dan secepatnya menuju satu jalan menuju lokasi pantai. Jazz Blue Cafe terletak begitu strategis. Tepat dipinggir pantai, jauh dari keramaian promenade, didaerah kota Marina del Ray. Dari jauh, sudah terlihat lapangan parkir dan mobil sedan sang gadis. Cuaca diluar ternyata agak mendung namun masih terlihat cantiknya pemandangan disekitar cafe favoritnya itu. Setelah Rio memarkir mobilnya, lalu dibukanya bagasi mobilnya, hendak mengambil sesuatu didalamnya. Ah tapi nanti kalo ujan gimana? Bisa rusak dong...?Hmm...pikirnya sesaat, lalu menutup bagasinya kembali.
Disaat yg sama, ternyata Grachella dari dalam sana sedang melihat keluar, kesatu sosok tubuh yg amat sangat dikenalnya.....
Itukah dia ? Oh my gawd! That's him! That is him! Teriakku dalam hati. Hampir copot rasanya jantung ini. Dia lain sekali. Semakin hmm tampan, dan lebih dewasa. He's getting closer and closer. Belum sempat ia merapikan rambutnya, sosok itu tengah berjalan menuju pintu cafe. Lalu tiba2 handphonenya berbunyi. Ah, siapa lagi? Pasti dia!
"Hallo?"tanyaku secepat mungkin. Tak kusadari, bibirku sendiri bergetar, namun tetapi ....
"Hi sunshine,...."suara laki2 lain terdengar diujung sana. Aku menelan air ludahku dengan susah payah. Suara Joshua. Sebelum sempat kujawab sapaan mesranya itu, seorang pemuda tinggi berkacamata, berpakaian rapi dengan rambut yg sudah tidak gondrong seperti dulu lagi, tengah berjalan menuju tempat duduknya sambil tersenyum ramah dan melambaikan tangannya.
Aku membalasnya sambil tersenyum lalu menegakkan punggungku. Joshua, ya ampun, dia sedang menelponku sekarang.
"Hai.... Ada apa?"tanyaku sesabar mungkin. Josh tidak tau bahwa aku tengah berada ditempat kenangan ini, di hari ulang tahunku yg ke 27 ini.
"Nothing. Just wanna check-up on the birthday girl. Where are you honey?"tanya Joshua sambil berusaha tidak memikirnya nada suara yg didengarnya begitu aneh itu.
"Aku.. hm aku sedang ada janji untuk bertemu dengan salah satu teman lamaku..."jawabku sambil agak berbohong. Sementara itu Rio telah sampai dimejaku, berdiri memaku sambil menyuruhku meneruskan pembicaraanku dahulu. Lalu ia permisi pamit ke restroom. Aku mendesah pelan. Kenapa justru disaat2 ini malahan aku tidak menyambutnya? Kamu sudah 5 tahun tidak bertemu!
"Josh, nanti aku telpon kamu lagi ya? Bisakah?" pintaku sambil memelas. Takut ia marah atau curiga. Tapi ternyata cowo itu sangat pengertian. Dia mengiyakan lalu menyudahi telponnya dengan berkata,"okay, i love you honey....ati2 nanti nyetirnya..."
Click. Kututup handphoneku dengan perasaan begitu sesak. Bagaimana ini terjadi? Apakah Joshua tau bahwa Rio sedang ada bersamaku saat ini? Orang pertama yg merayakan ulang tahunku dipagi hari ini.
Sesaat kemudian Rio pun muncul dari restroom. Lebih segar dari tadi. Lebih tampan dan matanya itu. Ah, matanya tidak bisa mengalahkan pandangan siapapun didunia ini, pikirku seraya tersenyum melambaikan tanganku. Ia mempercepat langkahnya, lalu menghampiriku. Kami berpelukkan akrab.
"Apa kabar nek! Wow...! Look at you now! hehehe" serunya dengan pandangan bangga. Tatapannya itu tetep seperti dulu. Hangat dan sangat ... Ah entah lah, aku tak bisa menguraikannya dengan kata2.
"I'm good. Well, look at you! All dressed up like this.. udah kayak eksmud ajah 'yo!"godaku sambil mengajaknya duduk. "Mau pesan apa?" tanyaku sambil melihat kematanya. Pandangan kami bertemu. Sedetik, dua detik. Dia masih menatapku sambil tersenyum, membuatku begitu salah tingkah. Aku kalah, kupalingkan wajahku sambil berusaha keras untuk menutupi wajahku yg sepertinya udah memerah malu. Kuambil menu itu ambil pura2 membacanya setelah kusodorkan satu untuknya.
Rio tersenyum sendiri lalu melirik kearah cangkir capuccino disampingku itu.
"You're different...."
Katanya singkat, sambil ikutan membuka dan membaca menu itu. Isi menu yg kami sudah hafal luar kepala, karena selama ini kami memang tidak pernah butuh utk melihat menu dahulu. Dia akan memesan regular expresso lattenya dengan strawberry french crepesnya untuk breakfast. Sementara aku, kadang memilih blueberry scone atau ham and cheese croissant sandwich.
"Hm? Different gimana...?"Sapaku sambil berusaha tenang dan menutup buku menu itu. Ia pun melakukan yg sama.
"Iya...gak bawel lagi seperti dulu. Terus kayaknya lebih feminim, lebih dewasa, lebih manis dari dulu..." Suaranya fades out sewaktu mengucapkan kata "manis". Aku tertegun sebentar lalu ketawa kami memecah.
"Ah mulai deh gombalnya.... Aku pikir kamu...."
"Aku? Kamu?..."godanya sambil tersenyum lalu tertawa-tawa. Ya, kami mana pernah membahasakan diri dengan aku-kamu ? sejak kapan? Oh my gawd, this is getting awkward by the minutes! Otakku berputar-putar sekali lagi. Lalu kamipun sama2 terdiam dan menahan tawa.
"Sorry yah 'cel....tadi gila2an macetnya, ternyata ada 3 mobil kecelakaan..."Cepat2 dibukanya satu topik yg bisa membuat kami melewati detik2 kecanggungan ini. Lalu Rio pun bercerita panjang lebar sambil menunggu waiter itu menghampiri meja kami.
Setelah kurang lebih 10 menit sama2 bercerita tentang kehidupan kami masing2 selama 5 tahun terakhir ini, pesanan kami pun tiba.
"Apa kabarnya Papa-Mama kamu?"tanyaku sembari meneguk banana-peach juice yg aku pesan.
Keluarga Rio termasuk salah satu keluarga yg cukup terpandang di Jakarta. Papanya, Rachmat Sudibyo, sekarang ini bisa termasuk dalam 5 besar konglomerat di seluruh Indonesia. Perusahaannya yg bergerak dibidang makanan kaleng ekspor impor sudah cukup ternama diseluruh Asia. Mamanya, Widuri Sartika adalah seorang guru bahasa Inggris di sekolah Pelita Harapan. Keduanya menikah dan menetap di Jakarta. Rio, sebagai anak laki2 satu2nya, dan anak bungsu pula, memang amat sangat dimanjakan oleh kedua belah pihak. Semua yg Rio mau, termasuk sekolah dan sempat tinggal lama di Amerika, juga dikabulkan.
"Bae-bae... Mereka sedang liburan di Paris bersama ciciku...."jawabnya singkat sambil kembali sibuk memotong french crepes itu. Looks very delicious, pikirku iri. Lalu cepat2 melihat ke piringku sendiri, takutnya dia tahu kalo aku memperhatikannya dengan jelas. Namun ternyata, cowo itu tahu, sejak dulu kalo mereka memesan sesuatu, suapan pertama pasti diberikan buat gadis itu. Entah kenapa, seperti sudah kebiasaan saja.
"Mau cobain 'cel? Enak lhooo...."Godanya sambil melirik kearahku manja. Aku menggeleng pelan sambil malu2 seperti sudah ketangkap basah saja.
"Beneran ga mau? Ntar nyesel lagi..."Lagi2 ia menggodaku, lalu sepertinya melihat wajahku yg mulai memerah malu. "Hmm kalo ortu kamu gimana?" tanyanya balik.
Mama-Papa dan ketiga saudaraku, cici dan kedua adikku pindah ke LA karena kami sekeluarga mendapatkan lotere greencard. Waktu itu aku baru mau naik kelas 3 SD. Mamaku lahir dan dibesarkan dengan adat Timur Indo-Jerman, menikah dengan Papaku setelah mereka lulus kuliah di Jerman. Papaku sendiri lahir dan dibesarkan di Jakarta, dan sekarang menjabat sebagai seorang dokter sebuah rumah sakit umum di downtown LA.
"Oh, baik2 juga... Mereka tahu kalo kamu disini...."jawabku pelan. Memang sejak dulu, kedua orangtuaku telah menyukai Rio. Apalagi kedua adikku itu, Andy dan Maureen (atau lebih sering dipanggil Ulin/Ully). Keluargaku begitu menganggapnya sebagai bagian dari keluarga sendiri. Aku sendiri terkagum2 melihatnya. Karena belum pernah ada cowo yg bisa mengambil hati Papa dan adikku yg cowo. Mereka berdua sudah seperti bodyguardku yg siap sedia menerkam para cowo2 yg berani2 dekat denganku. Rio kemudian menjadi seperti seorang kakak sulung kami semua. Akrab sebagaimana layaknya satu keluarga.
"Ulin udah kelas berapa ya? Atau sudah kuliah?" tanyanya lagi sambil mencoba mengingat-ingat. Memang sejak dulu, adikku yg bungsu itu selalu manja dan nempel sekali padanya. Dan mungkin karena sama2 anak bungsu, merekapun cepat akrab dan cocok. Rio seringkali membuatku sedikit iri bila dulu ia datang kerumahku dengan membawa dua tangkai bunga mawar, satu untukku, satu untuk Ulin.
"Hmm belum, baru kelas 3 sma, tahun depan baru mau masuk kuliah..." jawabku sambil lalu bercerita2 kembali. Aku ingat, memang dari dulu ada satu kebiasaan yg kuperhatikan dari cara makan sang pemuda itu. Kebiasaan yg ternyata masih terus ada sampai detik ini.
Rio memang amat cinta Tuhan. Kalo dulu kami lupa berdoa makan, dia yg selalu mengajakku untuk berdoa bareng. Biasanya doa makan dilakukan sebelum makan, tapi dia seringkali berdoa singkat setelah segala makanan dilahapnya. Tadi barusan, ia memotong ceritaku, lalu membuat tanda salib didahinya lalu berdoa sejenak. Aku menunggunya saja sambil merapikan saputangan yg ada di pangkuanku.
Dulu lewat petikan gitarnyalah, Rio membawaku pergi ke gereja dan mengikuti persekutuan doa muda-mudi yg dipimpinnya. Semua lagu2 yg dikarangnya, akulah yg pertama kali mendengarnya. Aku bisa melihat betapa Tuhan bekerja di kehidupannya. Dia pernah berkata bahwa jika bukan Tuhan yg bekerja, dia tidak mungkin seperti sekarang ini. Hidupnya pasti sudah hancur ditangannya sendiri karena memang, sebelum kenal Tuhan, dia sempat mencoba segala macam obat2an dan perbuatan2 dunia yg mampu merusak hidupnya itu.
Sebelas tahun setelah pertemuan pertama kami itu rasanya begitu singkat. Setelah lima tahun berpisah, sekarang kami berdua bisa makan bersama2 kembali di caf� ini. Segalanya sudah berubah, aku pun telah mempunyai kehidupanku sendiri, dan tampaknya demikianpun dia, telah menjadi satu business associate yg cukup terkenal di Jakarta.
"Cel? Koq bengong? Udahan? Yuk cabut... ajaknya setelah membayar bill yg ternyata sudah diambilnya dan dibayarnya. Aku hanya mengangguk lalu berdiri mengikutinya. Kamipun berjalan keluar bersama. Rio membukakan pintu untukku sambil tersenyum dan berkata, "silahkan ndoro putri...." godanya hingga membuatku malu.
Sebelum kami berpisah dilapangan parkir, ia mengajakku berjalan menuju mobilnya. Sedan berwarna silver italics, SLK 320 keluaran baru gres. Oh my gawd. Aku menelan ludahku sambil memandangnya dari belakang dengan tatapan tak percaya. Rio tiba2 berhenti, melihatku sejenak, lalu membuka trunk mobilnya.
"Come here birthday girl...." Ajaknya untuk aku segera mendekatinya. Aku berhenti sebentar, hesitating. Menarik napasku sambil memalingkah wajahku kearah lautan disamping kanan kami itu, sebelum melangkahkan kakiku kearahnya. Rio hanya berdiri menantiku tanpa melakukan apa2.
"??? Iyo...no, you shouldn't have!.... " kugeleng2kan kepalaku sambil menahan mulutku. Sedetik kemudian aku merasakan ada yg hampir jatuh menetes dari mataku.... melihat apa yg berada didalam bagasi mobilnya itu. Dan iapun tersenyum sambil menggeleng2kan kepalanya....
Bersambung ke edisi 3...
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


