- Monday, September 29, 2003
The Gift: Cerita Mereka edisi III
Malam itu, sewaktu aku sedang tidur2an dikamar sambil sesekali melirik kearah meja blajarku. Ada satu vas bunga indah....
Masih terngiang-ngiang rasanya peristiwa kemarin pagi didepan caf favorit kami berdua, Jazz Blue Cafe. Rio membuka bagasi mobilnya, memanggilku utk mendekatinya, lalu sekejab saja, terlihat pemandangan yg begitu indah, menyilau mataku...
"Oh my God.. Iyo.. "dan akupun tak mampu berkata2 lagi. Kulihat berpuluh2 bunga mawar, ah bukan puluhan, mungkin juga ratusan atau ribuan. Pokoknya bunga2 itu memenuhi seluruh bagasi mobilnya. Hundreds of roses. Begitu berwarna-warni, pink, merah, ungu. Sungguh luar biasa. Sekejab mata memandang, bunga2 itu dengan cantiknya menghiasi bagasi mobil Rio. Bukan main indahnya. Rasanya seumur hidupku ini, belum pernah melihat bunga seindah dan sebanyak itu. Ditengah2 ratusan bunga mawar berwarna-warni itu, ada satu bunga mawar ungu muda yg sepertinya sengaja ditaruh tepat di tengah, menonjol keluar.
Mulutku langsung tak mampu berkata2 lagi. Airmata ini rasanya sudah tak sabar untuk banjir keluar, dan melihat itu pemuda ganteng disampingku langsung tertawa renyah lalu memelukku dari samping dengan lengan kirinya. Memelukku hangat hingga bisa kucium aroma tubuhnya yg begitu khas.
"Selamat ulang tahun yg ke 27 sis. Tuhan sayang kamu..." Bisiknya sambil mengecup keningku lembut. Hatiku bergetar saat itu juga. Tuhan, apa yg terjadi? Kenapa aku jadi begini? Rasa itu amat familiar, begitu menegangkan akan tetapi rasanya saat itu aku begitu bahagia. Bahagia sekali.
Rio mengajakku untuk mengangkut bunga2 itu ke mobilku, tapi karena terlalu banyak, akhirnya dia pun memutuskan untuk menemaniku balik kerumah. Pertamanya aku menolak, tapi karena melihat bunga yg segitu banyaknya, rasanya percuma saja kalo kami capek2 memindahkan semuanya dari satu mobil ke mobil lain, lalu nanti dirumah aku kelimpungan sendirian untuk mengangkutnya masuk kekamarku.
Akhirnya kami pun pulang beriringan. Aku didepan, mobilnya dibelakang, seolah2 sedang menjagaku dengan setia.
Selama di perjalanan, rasanya wajahku ini tak mampu untuk berhenti tersenyum. Sesekali ku lirik kearah spionku hanya untuk melihatnya dibelakang sana. Terkadang ia menelponku, hanya untuk menggodaku. Untungnya selama perjalanan, Joshua tidak menelponku, sehingga aku tak perlu berbohong padanya.
Ah, kejadian kemarin itu betul2 menyita waktuku seharian tadi dikantor. Dan sekarang, sudah kira2 1 jam aku tiba dirumah, setelah berhasil menolak ajakan Joshua untuk makan diluar dengan alasan capek banget, akupun menghabiskan waktuku untuk melamun. Sambil sesekali tersenyum2 sendiri. Lalu tiba2
"Ella...itu ada telpon dari Rio..."tiba2 pintu kamarku terbuka. Mama, yg sudah keliatan sangat anggun, menghampiriku, lalu duduk membelai-belai rambutku. "rambut kamu udah panjang lagi sayang.... potong dikit gih..."
"Ah mama... sayang kalo dipotong ma... hehhe ... eh bentar yah 'yo...." kataku singkat, lalu ku berdiri dan lalu kami jalan saling berpelukan. Turun tangga, lalu menemui Papa yg sudah siap menanti istrinya tercinta untuk pergi keluar kesalah satu pesta anniversary rekannya. Setelah mereka berangkat pergi, tiba2 aku ingat, masih ada Rio on the other line, yg masih menunggu tanpa tau kenapa dia di put on hold selama itu.
"Eh sorry sorry 'yo...."
"... lama amat, ngapain aja 'cel..."
"Nganterin mama-papa pergi... Mereka berdua ada party, itu lho si om Wibisono, neuro-surgeon di Kaiser, 25th anniversary , pesta di Sheraton Universal. Duh romantis juga yah, 25th anniversary aja sampe ngundang orang banyak gitu. Aih, Papaku ganteng banget lhoh yo "
Dia tertawa diujung sana. Lalu kami pun ngobrol2 ditelpon, sampai kayaknya udah gak ada bahan pembicaraan lagi.
Eh, u know what,... gue ketemu satu lagu, hmm lagu lama sih...tapi baru..."
"huh? lagu lama tapi baru gimana...."
"Ohh hehehe hmm I think it is an old song, ... chords gitarnya asik banget....mo gue mainin ga?"
Rio memang sering begitu. Tiba2 lagi menelponku lalu gitaran sambil bernyanyi. Meminta pendapatku tentang lagu yg baru dikarangnya. Aku sih gak keberatan, asik juga seperti di 'ninabobo'in dengan dentingan gitarnya. Hehe... dan malem itu, aku juga udah sangat ngantuk, tapi ingin juga denger lagu 'lama tapi baru'nya dia itu.
"Boleh.... " sautku sambil menarik selimutku, siap2 merem utk nantinya tertidur. Seringkali kejadian dia main gitar, lalu setelah beberapa saat, aku ketiduran sampai pagi, dan ternyata diapun terlelap diujung sana.
Dentingan gitar terdengar. Wah asik juga, pikirku sambil coba menebak2 judul lagunya.
"Dengerin dulu baru boleh nebak ya?" kata Rio sebelum dia memulai bernyanyi.
Just to promise you this
Endlessly to be true to you
And if you answer my prayer
I'd cross my heart and I'd swear
Endlessly to be true to you
And if you'd only see
How beautiful you and I would be
Endlessly
Lagu itupun lalu berhenti. Aku masih terdiam sambil terpejam. Petikan gitarnya sungguh seperti sedang menghipnotisku saja.
"Oi nek...? dah bobo yah?"
"hmmmm....belum..." sahutku sambil cepat2 membuka mataku kembali. Entah lagunya atau suaranya yg membuatku terpana. Memang selalu begitu. Anak itu kalo udah maen gitar dan nyanyi, kayaknya semua cewe2 yg mendengarnya, saat itu juga akan luluh dan jauh cinta sama dia. Kata teman2ku, kayaknya hanya aku yg kuat bertahan disisinya tanpa sampai jatuh cinta padanya.
Aku paham, sangat paham bahwa musik itu adalah talentanya. Dia bisa bermain musik apa aja, gitar keyboard drum, suling, harmonica. Disitulah kharismanya timbul dengan sendirinya. Dulu ada seorang temanku yg naksir berat sama dia, pernah berkata padaku, 'suaranya itu lho la, rasanya mampu menggetarkan seluruh jiwa ragaku...'
"Gimana? tau ga lagunya?" tanya Rio sambil masih memetik2 gitarnya. Anak itu pasti pake headphone deh, udah kayak operator AT&T aja malem2 begini, pikirku geli.
"Endlessly yah...B4-4 kan udah lama banget gue ga denger nih lagu" jawabku singkat.
"hah? serius loe nek?..... GILA....ni anak sakti juga..." dia tertawa.
"apanya yg gila 'yo..." jawabku kalem. Lalu terdengar suaranya diujung sana mendecak kagum lalu tertawa. Lalu dia cuma menyuruhku utk segera tidur, namun sebelum sempat kami berpisah, ada line masuk ditelponnya.
"Eh eh, ada telpon nih non. Met bobo yah, Ill call you tomorrow nite ecel... "
Lalu ia menutup telponnya. Aneh, kayaknya koq buru2 sekali, pikirku sambil berusaha tidak mengacuhkannya. Kulihat jam dinding dikamarku itu, sudah hampir jam 11 malam. Perutku mulai bunyi2, ternyata cacing2 ini minta diberi makan, pikirku geli. Hm Josh lagi ngapain ya? Mungkin aku sms saja deh.
aloh.udah makan? Gi ngapain? itu pesan yg ku ketik melalui sms ke handphone Joshua. Pacarku yg satu itu, ternyata amat sangat pengertian. Kemarin malam sewaktu ia mampir ke rumah, disaat sewaktu seisi keluargaku plus Rio, sedang makan malam bersama, ia dengan cepat bisa mengambil hati kedua orangtuaku dengan segala perhatian yg diberikannya padaku. Entah itu dengan memuji masakan mama, yg memang selalu kebiasaan masak sendiri hidangan ulang tahun untuk anak2nya, ataupun mengajak ngobrol papa dengan topik2 menarik. Terhadap Riopun dia sepertinya tidak menunjukkan rasa terganggu atau gimana. Amat tenang dan bersahabat.
Dan sewaktu dia melihat bunga2 mawar memenuhi seluruh ruang tamu dan kamarku, aku tau dia pasti akan bertanya. Tapi ternyata tidak. Dia mengajakku keluar ruangan setelah kami kelar makan, lalu duduk2 di patio depan sambil melihat pemandangan kota yg gemerlapan lampu itu. Kami bergandengan tangan, dan ia memelukku dari belakang sambil berkata, I love you so much, it hurts sometimes....you don't have a clue -- his one famous pick-up line (hehe).
Hadiah ultah darinya ternyata tak kalah terkejutnya buatku. Dikeluarkannya sekotak hijau muda yg amat kukenal. Tiffany & Co. Jantungku berdetup keras. Memikirkan yg tidak2 sambil berdoa semoga cowo dihadapanku ini tidak akan langsung berlutut didepanku. Tidak, jangan sekarang. Tidak saat ini. Pikirku sambil menatapnya dengan sedikit cemas.
"Go ahead open it...."Katanya lembut sambil menyodorkan kotak itu kepadaku. Saat itu kami sedang duduk berhadapan, jadi terlihat jelas sekali senyuman tulusnya itu.
Aku terdiam lalu mengambil kotak itu sambil pelan2 membukanya. Ah, lega rasanya. Bukan cincin. Lalu kuambil, dan mencoba memakainya dipergelangan tanganku.
bagus sekali.. makasih ya. Kataku sambil menyentuh tangannya sebentar. Tapi gelang ini kebesaran sekali, apakah dia sungguh lupa bahwa emang pergelanganku tidak sebesar itu?
Joshua tersenyum lalu tertawa pelan. Lalu berkata, "you're welcome, dear. But that's not how you use it..."
Dia pun berdiri dan menghampiriku. Diambilnya gelang itu dari tanganku, lalu ia berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai. Aku kaget setengah mati. What is he doing?
Joshua melihatku tergugup, lalu ia tersenyum kearahku dan menunduk untuk memakaikan gelang itu di pergelangan kaki kiriku. Oh, ternyata bukan gelang tangan, tapi anklet alias gelang kaki. Aku pun tersenyum sendiri menyadari kebodohanku.
Setelah selesai memasangkannya, ia tetap berlutut disitu sambil melihatku.
Ada yg bilang, kalau memberi anklet sebagai hadiah ultah bagi seseorang yg amat dicintai, maka akan ada kesempatan untuk bisa mengikuti kemanapun langkah kakinya beranjak.seumur hidupnya. Begitupun aku, gracie. Gracie, panggilan sayangnya untukku. Lalu dia meneruskan, Aku berharap bisa terus bersama2 denganmu selamanya
Kata2nya yg begitu tulus, begitu ah, aku mumet memikirkannya. Bagaimana bisa? Tidak, aku tidak akan tega menyakitinya. Saat itu aku berasa amat sangat beruntung mempunya satu keluarga yg amat luar biasa, dan memiliki kasih sayang dari 2 laki-laki yg amat penting dalam hidupku ini. Akankah hatiku berubah seketika hanya karena Rio, sahabatku itu sudah kembali lagi dikehidupanku kini? Bagaimana dengan Joshua?
Akhirnya hari semakin malam, dan perutku pun telah kuacuhkan lagi. Malam itu aku kembali puasa gak makan malam. Setelah tenggelam dengan pikiranku sendiri, sambil mikirkan semua itu, aku pun lupa untuk mengecek kembali handphoneku, kalau2 ada pesan balik dari Josh. Dan ternyata,...ada satu pesan terpajang disana.
Iyo HP.
"non, there's something I need to tell you, please call me."
Tut..tut...tut....
Bersambung ke edisi 4
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


