- Monday, September 22, 2003
The Beginning: Cerita Mereka edisi I
Mungkin nanti cerita ini hanya ringkaian kata2 tak berarti...
Mungkin juga hanya seperti kisah roman picisan biasa...
Tetapi keajaiban inilah yang membuatku lebih dewasa...
Menjadi aku yang sekarang...
Harus memulai dari mana ya...
Setiap sudut kejadian terasa begitu penting..
Haruskah ku mulai dari awal saja? atau dari tengah?
Ah, alur ceritaku tidak begitu penting...
Yang penting aku bisa menguraikan semuanya...
Karena itu, ijinkanku memulai cerita ini dari tengah.....
Handphoneku bergetar. Kulirik sebentar untuk melihat pesan pengirimnya. Rio HP
"Non, gue masih stuck dijalan, macet banget, so sorry. I'll be there as soon as I can."
There he is. Sejak duapuluh menit yg lalu, aku duduk sendiri disini menunggunya. Tempat ini sengaja dia yg pilihkan kami bertemu. Jazz Blue Cafe, adalah tempat kami berjanji untuk tetap berada didalam kehidupan masing2 apapun yg terjadi. Tempat dimana duabelas tahun yg lalu, dimasa kami masih sama2 dibangku kuliah, kami sempat pernah berjanji bahwa disaat aku berumur 27 tahun, ultahku akan dirayakan dengannya disini.
Kulirik sebentar ke arah gelas cangkir yg indah itu. Mocca cappucino latte itu masih tetap utuh tak tersentuh. Mengapa justru dihari ultahku ini, aku merasa ada satu beban dihati dan pikiranku, yg aku sendiri ga sanggup untuk mengatakannya dengan kata2.
Kira2 tiga bulan yg lalu, aku dengar rencananya untuk kembali ke Amerika, setelah kurang lebih 5 tahun lamanya Rio pergi meninggalkan kehidupannya disini untuk meneruskan perusahaan ayahnya di Jakarta. Selama itulah kami hanya berhubungan lewat email, telpon dan chatting. Terkadang aku merasa bahwa sebentar lagi, kami akan menjadi sepasang sahabat yg hanya dekat karena terpaksa. Terpaksa oleh keadaan dan jarak yg begitu jauh yg memisahkan.
Namun pada saat aku mendengar dari seseorang yg amat dekat denganku saat ini bahwa ia akan kembali ke Amerika, aku tak mampu untuk menyembunyikan perasaanku sendiri saat itu didepan Joshua, seorang pria yg amat mencintaiku itu. Dari tatapan matanya aku pun mengerti apa yg dia pikirkan. Pacarnya sendiri yg sudah bersamanya lebih dari 3 tahun, ternyata masih amat sangat menyimpan perasaan lain terhadap seorang pria yg hanya dikenalnya lewat cerita usang.
Memang, hubunganku dulu dengan Rio, tidak akan ada yg bisa mengerti dan percaya. Tidak, kami belum pernah berpacaran. Rio, ia telah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri, kakak laki2 yg tidak pernah kupunya selama ini. Mungkin memang dulu aku pernah mengaguminya dan secara tak sadar, dalam lubuk hatiku, tertanam namanya yg menjadi cinta pertamaku. Tapi yg penting bagiku kini, aku telah sadar, bahwa hubungan kami dulu memanglah hanya sekedar teman biasa. Tidak ada bumbu2 cinta diantara kami, karena memang sejak awal, mungkin takdir telah mengatakan bahwa dia adalah kakakku.
Sambil menunggunya ditempat kenangan ini, otakku tak sanggup untuk melayang kemana-mana. Semuanya terlintas dan lewat dipikiranku meskipun dengan susah payah aku telah mencoba untuk tidak bernostalgia, namun gagal.
Kesan pertama melihatnya 11 tahun yg lalu itu langsung muncul dibenakku.
Malam itu. Juni 1991. Malam dimana aku bertemu dengan seorang pria bernama Rio. Dini, teman baikku datang menjemputku, lalu kami pergi ke konsulat karena malam itu adalah U13 Indo Nite, yg diadakan oleh tigabelas universitas yg tersebar diseluruh Southern California. Sahabatku itu adalah salah satu ketua permias yg ikut andil didalam acara U13 yg diadalah setiap 3 tahun sekali ini.
Sesampainya disana, kami langsung masuk ke ruang acaranya. Dan pas saja, seorang band sedang tampil dengan 4 personil. Semuanya laki2. Tapi hanya satu pria yg sanggup menyita perhatianku. Ia berbadan tegap, tinggi, berkesan sedikit playboy dengan wajah cukup tampan, rambutnya diikat karet dengan kepala dililit bandana biru tua. Sungguh teramat tampan. Aku masih ingat saat itu aku pikir dia adalah seorang foto model terkenal seperti yg aku pernah liat dari majalah2 remaja yg sering kubaca dikamar Ully, adikku yg bungsu.
Dini mengajakku untuk mencari tempat duduk, namun akhirnya aku hanya berdiri dari kejauhan menatapnya tak berkedip. Entah apa, mungkin suaranya, mungkin juga lagu itu yg dinyanyikannya begitu pas, atau mungkin hanya atmosfir ruangan yg sepertinya membiusku untuk masuk kedalam dimensi yg selama itu tak pernah kurasakan. Rasa apakah ini?
Tak lama setelah itu, acarapun usai. Ternyata lagu yg dinyanyikannya adalah pertunjukkan terakhir utk malam itu. Dan setelah acara berakhir, setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan yg begitu luas itu, akupun berjalan maju kedepan utk masuk ke satu pintu menuju belakang panggung.
Sesampainya disana, ternyata Dini dan beberapa temannya, termasuk pria itu sedang asyik bercakap2 sambil sesekali tertawa tergelak2. Dini melihatku, melambaikan tangannya untuk menyuruhku mendekatinya. Sepintas pandangan kami bertemu. Ah, sorot matanya itu, begitu tajam, begitu mengundang. Buru2 ku berpaling dan cepat2 duduk disebelah Dini.
Pria itu berdiri tepat berhadapan denganku. Sorot wajahnya sepertinya sedang menatapku hingga wajah tampannya itu semakin jelas terlihat. Lalu dia pun tersenyum kearahku, lalu berkata kepada Dini.
"Siapa nih Din...kenalin dong..."
Suaranya begitu lembut dan friendly sehingga banyak teman2 disitu yg ketawa menggodanya. Namun dia sama sekali tidak peduli sambil tetap menatapku. Dini tersenyum melihatnya begitu, sambil memelukku dari samping.
"Ah eloe mah 'yo...paling cepet deh kalo ngeliat cewe manis.... eh eh, hayukk pada kenalan anak2.... Ini adikku yg paling manissss...."
Dini mendorongku kedepan utk bersalaman dengan mereka satu persatu.
Pria itu melirik kearahku lalu tersenyum kearah Dini.
"Ah masa sih? 'Din, sejak kapan loe punya dede semanis ini ...koq gak pernah dibawa sih...." candanya dengan ramah, tanpa bermaksud ngegombal atau kurang ajar.
Sementara itu aku pun mulai berjalan berkeliling utk bersalaman dengan mereka satu persatu. Lalu berdiri tepat didepannya. Orang yg kesepuluh.
"Hallo, gue Rio." sambil mengulurkan tangannya, lalu kami pun berjabatan. Aku sendiri hanya bisa tersenyum sedikit sambil hanya menyebutkan namaku.
Sejak saat itulah, aku berkenalan dengan Rio. Sahabatku yg telah menjadi bagian dalam hidupku selama 27 tahun ini. Memang saat itu, meskipun banyak teman2ku yg bilang bahwa aku sebenarnya enak diajak ngobrol dan dijadikan teman, akan tetapi, hanya sedikit dari teman2ku itu yg orang Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah orang asia pada umumnya, korea, jepang, taiwan, hongkong dan juga bule.
Namun sejak perkenalanku dengan Rio, kehidupanku berubah 180 derajat. Rio membawaku untuk menikmati masa muda kami berdua yg penuh dengan kegiatan. Kehidupan berorganisasi, berkenalan dan bergaul dengan banyak teman dari segala suka, ras dan agama.
Dan malam itu, sebelum kami berpisah, Rio mengajakku untuk bergabung dalam kegiatan2 permias U13 ini. Meskipun saat itu aku baru berumur 15 tahun, tetapi karena aku dekat dengan Dini, maka tidak menjadi masalah. Dini sendiri telah berpesan pada Rio untuk membantuku di lingkungan yg baru ini. Dan Rio pun tertawa renyah sambil berjanji bahwa dia akan menjagaku dengan baik. Diakhiri dengan senyumannya yg begitu ramah menyenangkan. Aku tahu, dengan sifatnya yg supel itu, dan wajah tampan berkharisma seperti dia, tidak akan susah untuknya mengajakku beradaptasi di lingkungan baru ini.
Siapa menyangka orang sepenting dia bisa masuk dalam kehidupanku yg begitu sunyi saat itu? Kehidupan yg jauh dari segala pergaulan. Aku yg dulu, yg tidak pernah bisa bergabung dengan kelompok teman2 orang Indonesia. Yang tidak mempunyai lebih dari 3 orang teman yg satu bangsa denganku. Karena bagiku, orang2 Indonesia, khususnya di LA, kota metropolis seperti ini, anak2 muda LA adalah borju2 dan semuanya berkelas atas. Telah muak aku melihat gaya lifestyle mereka yg seperti itu. Dimataku, mereka hanya mampu menghambur-hamburkan uang orangtua mereka yg telah bersusah payah menyekolahkan mereka keluar negri.
Rio, awalnya memang aku curiga ia akan sama seperti anak2 LA pada khususnya. Namun tampaknya ada satu celah lain yg kulihat dalam kehidupannya. Ia sepertinya telah diutus oleh yang diAtas sana untuk membawaku balik kembali mengenal lingkungan mahasiswa/i Indonesia pada umumnya. Memperkenalkanku pada satu dunia luar yg sebelumnya belum pernah kulihat.
Dan dalam waktu singkat, dia menjadi seseorang yg begitu penting bagiku. Bukan sebagai pacarku, namun lebih dekat dari itu....
Ohya, sebelum lupa, kenalkan, namaku Grachella
berlanjut ke edisi 2...
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


