- Tuesday, July 01, 2003
Cerita Mereka: bagian tiga [part a]
Dinginnya udara malam di Bandung saat itu tiba2 menjadi begitu mencekat. apa yg sudah terjadi, tidak ada bisa diubah kembali....
Suara jangkrik yg tadinya begitu jelas terdengar, seolah-olah berhenti mendadak, menghormati suasana sunyi diantara mereka...
"Can somebody answer me the question why? you don't miss your water till the well runs dry..." lagu itu tetap mengalun lirih.
Jonathan melirik kearah sang gadis yg sedang duduk diam dihadapannya. "leah?" sapanya pelan sambil mencoba tersenyum. Maafkan aku 'yayah... kalo dulu aku sadar, bahwa rasa rindu yg teramat sangat ini, benar2 bisa menyiksaku seperti sekarang,....tak akan kubiarkan kau lari dari sisiku...
Ingin sekali ia ucapkan kalimat itu, akan tetapi entah kenapa, lidah bibirnya hanya mampu memanggil nama sang gadis. apakah aku masih berhak mencintaimu seperti dulu? setelah apa yg telah terjadi diantara kita, ... setelah apa yg kuucapkan malam itu... Jonathan menelan ludahnya sambil mendesah berat. Lalu ia pun beranjak dari duduknya.
Leah menoleh dan terlihat olehnya satu perubahan drastis diwajah pria itu. Dijawabnya dengan singkat, "ya?" sambil dibantu dengan senyumannya yg terlihat begitu anggun, begitu tulus. ia begitu dekat, begitu real disisiku, tapi apakah artinya ini semua? Haruskah kubuka pintu hatiku sekali lagi, setelah beberapa tahun ini kututup rapat2.... pikir sang gadis sebelum diapun beranjak berdiri mendekati sang pria.
Memang selama ini, Leah telah sepakat untuk tidak jatuh cinta lagi kalo bukan orangtua'nya yg mengijinkan. Selama ini, terus menerus disibuki hari2nya dengan segala aktifitas dan kegiatan yg bisa membuatnya lupa akan perasaan hatinya. Biarlah. Biarlah waktu yg menuntunku berjalan kearah orang yg diberi ijin khusus oleh yg diAtas sana utk menjaga dan merawatku, utk mendampingiku seumur hidup ini ...
Dulu itu, dimalam mereka sepakat utk berpisah, Jonathan sempat berkata, bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan cinta sang gadis yg masih begitu murni dan putih. Ia pun berusaha menutupi perasaan gengsi dan sakit hatinya dengan perkataan yg begitu menusuk perasaan sang gadis...
"... kenapa Tuhan seperti itu? apakah ini bukti cintaNya pada kita? kenapa harus maut menghampiri mamaku bersamaan dengan keputusan kedua orangtuamu utk memisahkan kita? kenapa?" ucapnya dengan nada penuh putus asa, resah dan pedih. "pergilah,... aku tak pantas kau cintai. turutilah kemauan orangtuamu, mungkin memang aku tak cukup pantas untuk memilikimu..."
Dilihatnya sang gadis masih berdiri menatapnya dengan pandangan teramat sakit dan sedih. Lalu secepat mungkin dia pun berjalan menjauh lalu berlari kearah mobilnya, meninggalkan sang gadis yg melihatnya dengan tatapan begitu sedih, dengan mata yg tiba2 sembab, lalu banjirlah airmatanya. Leah terduduk lemas, tertegun diam, shock...
Dicobanya utk berdiri dan berjalan menuju kamar apartemen'nya, tapi langkah kaki itu terasa berat. Hanya matanya yg masih terus basah, sambil terus menatap keluar, melihat jalanan yg tiba2 sepi setelah mobil Jonathan berlalu begitu cepatnya.
"Yayah... hm, Leah?" panggil Jonathan berkali2. Dari tatapannya tersirat suatu rasa yg teramat susah dilukiskan dengan kata2. Sesaat tersadar, Leah pun cepat2 menoleh dan tersenyum manis kearahnya. Dihentikannya segala memori2 lama itu yg sedang bermain2 diotaknya.
Entah sudah keberapa kalinya flashback itu melintas dibenaknya sejak Jonathan menelponnya malam itu.
Dihatinya, gadis itupun tau, bahwa keputusannya masih tetap sama. Selama mama-papa masih belum bisa menerima Jonathan,
iapun tak akan mampu dan bisa untuk bersama pria itu kembali.
~~~~~
"Leah, coba kesini sebentar...."
"Yes Daddy..." ucapnya manja, sambil menghampirinya ayahnya tercinta itu dan lalu duduk disampingnya. Mamanya melirik kearah putri satu2nya itu sambil geleng2 kepala. "kamu ini, udah gede tetep manja aja...."
"ah mama gitu... jeles yach...hi hi " candanya sambil tetap menggelendot disisi ayahnya.
"Anak ini... sini, Papa mau beritahu sesuatu. Besok ada teman papa akan bertamu dengan istri dan anaknya yg baru tiba dari Boston... "
Leah terdiam sejenak. Ah, Boston? Lalu? pikirnya dalam hati. Hm, ini pertama kalinya papanya berkata padanya tentang anak temannya, dan pria pula. Hm, ada apakah gerangan? otaknya pun bermain2 kesana kemari... apakah papa hendak menjodohkanku dengan anak sang teman itu? Jaman apakah ini? Siti Nurbayakah aku?" geli pikirnya.
Dipandangnya sang papa dengan tatapan lucu, sambil tetap diam, berusaha mendengarkannya kembali.
"Nah, jadi besok kita sekeluarga makan malam disini. Kamu ikutan kan? nanti papa kenalkan dengan om Bahyarta itu.
Sekalian juga bisa kenalan dengan anaknya... arsitek lho....."
BINGO. Papa akhirnya ngaku juga bahwa dia punya rencana mengenalkanku (atau mungkin menjodohkanku?) dengan anak om siapa itu... Bahyarta? Aneh amat namanya.... pikir Leah dengan tatapan kosong, namun ia tetap senyum dan menggangguk.
"Oke Pap. Jadi mo jem berapa besok Pap?"
Papanya tersenyum sambil mengacak2 rambut putrinya yg manja ini, "Jam 7 malam saja, ya ga Mah?" tanyanya kearah sang istri yg sedang duduk membaca majalah. Istrinya mengganguk setuju. Siap sudah, besok jam 7, dirumahnya. Menunya italian, begitu kata mama. Wah, fancy sekali...
tamu kehormatan nih sepertinya, pikir Leah sambil berjalan menuju kamarnya. Dia belum berani untuk menceritakan prihal kembalinya Jonathan ke Jakarta.
Papa-mama mungkin sudah lupa atau mungkin sudah tidak begitu peduli akan masa lalunya itu.
Pagi itu, seperti biasa, mereka sekeluarga sarapan pagi bareng, lalu terdengar bunyi telpon. Ryan ternyata. Kakak satu2nya itu menelpon dari Melbourne, dan bercakap2 dengan ibunya.
"Lho? kamu dimana skrg? sudah di airport??? ada yg jemput gak?" tanya sang ibu dengan muka berseri2. Rasa kangen itu ternyata bisa terobati, anak sulung kesayangannya itu akan kembali.
"Blon sampe Mam, ntar malem jam 9 baru mendarat, eh tapi ga usah dijemput lah, ada teman bisa jemput kok.
Kita ketemu dirumah aja, mama-papa ga kemana2 kan?" terdengar ucapan disebrang sana.
Anak sulungnya itu mau datang hari ini, ah benar2 suatu kejutan buat sang ibu.
Cepat2 diberitahu suaminya, dengan satu tangan menutup sebelah gagang telpon itu. "Ryan datang nanti malam!"
Papa dan Leahpun sama2 terkejut lalu tertawa bareng. Dilihatnya sang ibu yg masih begitu gembira mendengar kabar baik pagi itu. "bagus bagus... nanti malam kita sekeluarga bisa berkumpul. Bahyarta dan sekeluarga juga bisa melihat Ryan kembali..." ucap sang ayah sambil menggangguk2 senang.
~~~~~
6.23pm
Leah masih duduk gelisah diruangan kantornya. "duh..blon kelar2. Draft2 design ini besok pagi harus udah kelar... aduh, mana dah jam segini...mati aku..." diliriknya jam ditangan kirinya itu, lalu dengan secepat mungkin dibereskannya meja kerjanya yg skrg keliatan begitu berantakan dengan kertas2 design dimana2.
Ruangan kantornya yg berAC sejuk, keliatan begitu asri dan nyaman, tidak terlalu besar juga sederhana. Dengan nuansa hijau muda, terlihat juga satu rangkaian bunga lily dan calla lily yg begitu indah dan fresh, membantu menyemarakkan isi ruangan kerja itu.
Dengan sekelibat mata disapu sekeliling ruang kerjanya, sang gadis mendesah pelan... "masih keliatan berantakan juga..., tapi aku harus pulang..." pikirnya cepat2 sambil diraihnya kunci mobil dan tasnya. Lalu dibukanya pintu, ...
Aaah... gadis itu tersentak kaget begitu dilihatnya ada seseorang tiba2 muncul dihadapannya....
bersambung ke Cerita Mereka 3b
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


