- Monday, June 30, 2003
- [part B]
Sore itu berkat bantuan Niko, mereka berdua akhirnya bertemu disatu acara muda-mudi. Leah datang berdua kakak sepupunya dan sesampainya disana, sang gadis baru tau bahwa Niko merencanakan pertemuan ini...
"Eh jon...tuh si leah baru dateng, sono gih cepetan samperin..."
"Hah? gila loe.... serius? kok dia bisa disini? *diam sejenak* loe tuh yah....."
"Udah sono cepettt...." didorong2nya temennya itu, lalu dia ngeloyor pergi. "...udah gede masi tetep aje malu2 kayak baru pertama kali ngejer cewe aja. huh." pikirnya saat itu sambil tersenyum sebentar kearah Leah, tapi dia memilih arah jalan lain.
Leah, dengan tampang kagetnya, dilihatnya Niko pergi menghilang, sementara dihadapannya telah ada satu pemuda yg wajahnya selama ini masih hangat dihatinya. Tetap dewasa, tetap kalem dan gentleman seperti yg selama ini dikenalnya. ah... benarkah ini dia..? it's him... ah....
"Hi there.... " Diulurkannya tangannya kearah sang gadis, dengan mata masih terus menatap dua mata indah dihadapannya itu.
Jonathan melihat sekilas ada pancaran indah yg tersorot dalam mata gadis pujaannya itu. "ugh...jaga diri 'nate...jaga diri,... ati2 jangan asal loe peluk aja....bisa gawat ntar..." pikirnya buru2.
Sang gadis menyambut tangannya, lalu merekapun sama2 tersenyum dan bersalaman. Ditengah2 ruangan yg luas itu, sepertinya hanya mereka berdua yg ada disana, orang2 lain disekelilingnya, beberapa yg mengenal Leah, melirik kearah mereka dengan tatapan aneh dan bingung. "Siapa tuh cowo...ga pernah liat..."
"...glad to see you again..." kata pemuda itu sambil menjabat erat tangan Leah. "kita keluar yuk,...rame banget, bising..." sambungnya lagi sambil tersenyum mengerling kearah sang gadis yg masih malu2 menatapnya, lalu merekapun berjalan kearah balkoni.
Diluar, ditemani dengan suara jangkrik dan angin sepoi2, Bandung malam itu terasa sangat sejuk -- sesejuk hati mereka malam itu.
Finally, after almost 3 years has gone by, tonight they meet again.
"hmm kamu..." bersamaan mereka berbicara setelah 5 menit sama2 terdiam. Leah tersenyum simpul. Ah, kamu tetep sama kayak dulu, selalu keliatan malu2 tanpa keliatan canggung atau kaku... pikir pemuda itu sambil menunggu sang gadis memulai bicara.
"kamu duluan deh..." balas Leah cepat sambil berbalik melihat pemandangan diluar hotel Chedi itu.
"hehe...hm dingin?" dilihatnya gadis itu tetap berdiri didekatnya, tanpa menjawab apa2, tapi ia tau, wajahnya sedikit memucat dan agak gemetaran karena dingin. Dibukanya jas'nya, dan sewaktu hendak menaruh dipundak sang gadis, Leah berbalik kearahnya dengan tatapan sayu, menolak...
"gak usah 'nate.... I'm ok"
"hmm ssh...udah ga papa, kamu gemeter gitu.... ntar dikirain orang2 gemeteran gara2 dimarahin aku, kan ga lucu... hehehe" jawabnya cepat sambil diselendangkannya jas hitam itu dipundak sang gadis. Leah melirik sebentar, lalu tersenyum sambil mulutnya berkata2 singkat, 'thanks'
"Duduk aja yuk... " ajaknya sambil menuntun sang gadis kesatu meja kosong dibalkoni itu. Kedua insan itupun bercakap2 sambil sesekali tertawa dan tersenyum. Sejuknya udara malam itu, menyambut hangatnya hati mereka berdua yg telah bertemu kembali.
Malam itu, untuk pertama kalinya kembali, Leah yakin bahwa selama ini dia belum berhasil. Belum berhasil melupakan pemuda itu dan cinta mereka, meskipun selama ini dia mencoba segala cara utk mengubur rasa itu jauh dilubuk hatinya. Jonathan pun sama.
Pemuda itu tau, malam itu pasti adalah satu awal baru yg dia sendiripun ga jelas gimana menjalaninya nanti.
Apakah arti semua ini ? Mereka terpisah begitu saja, dan dua tahun lebih telah dilewati dengan berbagai pengorbanan dan kepasrahan.
Apakah Tuhan mau memberi satu kesempatan lagi untuk cerita mereka ini?
Semuanya memang belum jelas, tapi yg pasti, sejak malam itu ada, mereka berdua sama2 yakin, meskipun nanti waktu memisahkan lagi, cinta mereka tetap utuh dan satu. Satu untuk selamanya...
Dan siapa lagi yg bisa memisahkan mereka selain ...
"Gimana Papa-Mama yayah bae2 aja kan?" Leah tertegun sejenak. Panggilan itu, terasa amat asing namun sangat familiar didengar. Hanya Jonathan yg memanggilnya 'yayah', katanya dulu,"yayang udah sering, udah pasaran... lagian nama kamu kan leyah hehehe" katanya menggoda, dan selalu ada cubitan yg mampir setelah itu. Tapi sejak itupun, 'yayah' menjadi panggilan sayang, yg kata pemuda itu,"...yayah itu lebih tinggi tingkatnya drpd panggilan2 sayang lainnya deh....khusus diciptakan karena kamu ada..."
"Baik.. mereka bae2 aja kok....hm mereka belum tau kamu ada disini" jawab gadis itu singkat sambil melihat dan menunggu respons pemuda itu.
Mereka berdua tau, meskipun alasan cinta ini harus terpisah, sebagian besar adalah karena orangtua leah yg tidak setuju akan hubungan mereka, tapi bagian besar lainnya sebetulnya adalah karena memang Tuhan mengijinkannya terjadi.
Saat2 itu Jonathan yg baru2 kukuh pada pelayanan imannya, hidupnya sempat tergoncang berat karena kanker hati merenggut hidup mamanya. Pemuda itu sempat goyah dan menghujat yg diAtas karena hal ini, dan lepas kendali sewaktu mereka baru mulai akrab. Saat itu, Leah seperti melihat tanda bahwa memang waktunya tidak tepat, dan mungkin itulah yg menyebabkan kenapa kedua orangtuanya pun ikut melarangnya.
Sejam lamanya mereka bercakap2 berdua diluar, sebelum akhirnya mereka sadar, bahwa acara malam itu masih terus berlanjut tanpa mereka.
Tiba2 satu lagu mengalum lirih...
But in my heart you'll always be everything and more to me
For I know this love between us is growing stronger
You can call me whenever from wherever
Just remember that
I'll be there
But I believe so strongly with you and I
Can somebody answer me the question why?
You dont miss your water till the well runs dry
bersambung ke Cerita Mereka 3a
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


