- Wednesday, June 18, 2003
You think I don't care
But you don't realize what this means to me
So let me have just one more chance
I'm not the man I used to be
Used to be ....
Cerita Mereka: bagian satu
That thought keeps bugging her for the last 10 minutes, until she finds out that the man she used to love, is back in town.
"Dia baru balik non.... kemaren si guntur liat dia jalan bareng temen2nya setelah kelar gereja pagi...." ucap Rina selagi mereka berjalan menuju ruang cafetaria.
"Oh, i see. Hm aku pergi dulu yah neng, ....udah ada janji...." jawabnya dengan terburu2 sampai dia pun berasa rasa getir itu dihatinya. Cukup sudah. Biarlah yg berlalu, tetep berlalu.
That night ... kring.... kring.....kring...kringg.....
"Sweetie....buat kamu nih..." Mama menghampirinya sambil memegang gagang telpon cordless itu.
"Sapa mam?...." tanyanya sambil menoleh kearah ibunya. Diterimanya gagang telpon itu sambil tersenyum, lalu bertanya-tanya sendiri dalam hati, apakah dia? ah, semoga jangan....
Mama menggeleng sekali, lalu dia pun berjalan menjauhi anak putri satu2nya itu dan menuju satu ruangan diujung sana dimana suaminya sedang menunggunya sambil menonton acara TV malam itu. Suara ditelpon itu masih amat sangat tidak asing ditelinganya, tapi entah kenapa, sang mama tidak berniat utk membahasnya ketika suaminya bertanya, 'Siapa?'
"Hello?"
"Leah?." paused.
"Yeah? who's this?"
"Hey gal..... " suaranya begitu lembut, sampai2 dia berasa ada sesuatu yg menekan lututnya hingga bisa begitu lemas.
Sang gadis terdiam, lalu menelan ludah pelan, sambil mencoba mengeluarkan suaranya, "....ya? .... " *paused again* Her mind is now wondering around. "I know this sweet voice. I think I know him. Oh God, ... is this him?" pikirnya dalam hati.
"How are you? I'm back in town for a couple of days, and wondering if .... " the gentleman voice suddenly stops, waiting for her to say something first.
But he realizes that she might not remember him in the first place. Little did she knew, he hasn't been able to sleep these couple of days, been thinking of a way to reach her, to contact her again after almost 3 weeks of his arrival. He just didn't have the guts to pick up the phone and dial her number, eventhough his friends told him so many times to just go ahead and make his move. They eventually finally gave up and all finally last call, they said,
"Do it now, or never"
"Hm I'm sorry,.... is this ....?" akhirnya dia pun beranikan diri utk menanyakan identitas suara lembut itu. "aku ga mau nebak2" begitu pikirnya.
"Yea. It's me, Nate..."
"Jonathan?" tanyanya sekali lagi sembari mengubah posisi duduknya. Entah kenapa, sofa itu berasa agak hangat dan jantung hatinya berubah mendadak berdetup begitu cepat. Leah memang suka memanggil nama lengkapnya. Selain dia, tak ada seorang pun yg diijinkan memanggilnya seperti itu.
"Yes...... " suaranya berubah menjadi agak santai. Lega mungkin. Iya, sangat lega karena ternyata suaranya pun masih belum terdengar asing ditelinga sang gadis.
Leah terdiam sesaat, gak tau musti bertanya apa lagi. It's really him.... he's really here in town.....udah berapa lama dia balik?....
Seribu satu pertanyaan bermunculan satu persatu diotaknya.
"Kok diem? u still there?" tanya pemuda itu lagi sambil mencoba mengubah suasana kaku itu menjadi agak santai sedikit. Stage pertama telah lewat. Rasa awkward mungkin masih ada, tapi setidaknya mereka hanya sebatas telpon, tidak bisa saling melihat reaksi diwajah masing2.
"I'm here.... hm apa kabar?"
"Baik. baik. Kamu gimana ? how are you gal?" Gal? Ugh. Only him who likes to call her that. Terdengar sangat friendly dan sekarang pikirannya pun melayang-layang. Apa maunya dia menelponku? Ah tidak Tuhan..... sudah cukup rasanya aku mikirin dia.....bukankah begitu? -- pikir gadis itu sambil jarinya bermain-main dengan ujung roknya. Lalu mereka pun bercakap-cakap lumayan santai, .....entah sampai jam berapa..... tapi rasanya pagi itu, leah terbangun amat siang, sewaktu mama memanggil-manggil namanya sambil mencubit pipinya pelan2. Ah mama, tadi aku lagi mimpi atau beneran sih? pikir gadis itu sambil tersenyum lucu sambil tertegun pikirannya.
Leah, gadis manis yg baru saja mapan dengan kehidupannya, yg sudah mulai senang tinggal balik ke kota kelahirannya setelah hampir 9 tahun dia tinggal diluar negeri.
Hubungan mereka memang telah berakhir jauh sebelum Jonathan menjadi amat terkenal digerejanya karena suara dan bakat musiknya itu. Banyak para pemuda2 dari gereja lain yg mengundangnya untuk mengajar atau memimpin seminar musik utk para muda-mudinya. Salah satu lagu buatannya malah pernah dinyanyikan oleh satu grup musik yg lumayan mapan, yg lebih terkenal dengan nama 'The True Worshipper".
Jonathan, mengenal Leah sewaktu mereka sama2 belajar diluar negeri, tepatnya di satu kota kecil gak jauh dari Miami, Florida. Mereka kenal karena salah satu acara Permias (Perkumpulan Mahasiswa/i di AS) di Columbus. Leah terlibat sebagai penata latar dan design panggung, sementara Jonathan, dia masih bermain bersama teman2 band'nya. Tepat sebelum acara dimulai, mereka berkenalan singkat, lalu disambung disela-sela acara, sewaktu pemuda itu tidak dibutuhkan utk berada diatas panggung. Sebentar saja, Leah sudah merasa ada sesuatu dalam diri pemuda itu yg membuatnya cepat berasa akrab. Sikapnya yg simpatik dan sangat perhatian, membuatnya semakin asik saja bercakap2 dan bercanda dengannya. Belum pernah ditemui pemuda seperti itu, yg tidak sombong dan low profile, meskipun banyak mata-mata yg sirik melihat keakraban mereka berdua.
Sejak saat itu, ... hatinya terpaut sudah.
Sejak saat itu, ... nama mereka terukir dihati masing2.
Sampai kejadian malam itu, dua tahun yg lalu, seminggu sebelum malam natal.
Satu kejadian yg membuat mereka sama-sama menduga, bahwa mungkin, .... hanya mungkin mereka bukan ditakdirkan untuk bisa bersama.
Mungkin bukan saat itu. Mungkin memang waktunya belum tepat. Tapi siapa tahu, siapa lagi yg bisa dijadikan panutan, kecuali Babe diatas sana, yg tau semua akan akhir dari cerita mereka itu.
Dan sejak saat itu, mereka berduapun sepakat, bila memang harus berpisah, biarlah waktu berjalan dan membentuk rasa hati mereka masing2.
Biarlah waktu kan menjawab, bila memang itu yg terbaik ...
bersambung ke Cerita Mereka 2
All Rights Reserved ® Shenny 2003-2004


